Langsung ke konten utama

Diary Comel



RINDU,  INI BAPAK KU

Pada sosoknya yang mulai menua, masih terlihat bias-bias ketampanan meski kerut wajahnya kian bertambah, badannya yang tegap kini mulai melemah, perutnya yang gendud mulai sedikit bergelambir. Meskipun begitu, di mataku dia tetap Pria tanggguh yang bijaksana, suami yang selalu berlemah lembut dengan isterinya, ayah terbaik yang selalu mendidik dan tidak pernah memarahi putra putrinya, kepala keluarga yang selalu tahu bagaimana menasehati dengan cara yang terbaik. Dialah bapakku. Raja yang tahtanya tidak pernah tergantikan dihatiku. I love u bapak :*
Demi pendidikan dan masa depan,  kuhabiskan 6 tahunku tanpa makan malam bersama keluarga. Tiga tahun masa SMA, kuhabiskan waktuku dirumah paman, selanjutnya kujalani tiga tahunku di pulau perantauan. Tahu bagaimana rasanya rinduku? Entahlah, aku sendiri sulit menggambarkannya. Kuharap, waktu berjauhan ini segera berakhir, aku ingin kembali bersama mereka yang paling kucinta. Aku ingin kembali merasakan canda, tawa dan tatapan hangat bapak, emak dan adik saat mereka berbicara dan saling bertukar canda. Ohh Tuhan...hanya Engkau Yang Maha Tahu sebesar apa rinduku menggebu.
Edisi rinduku kali ini terkhusus untuk pria istimewa itu.
Akan kupeluk dia saat aku bertemu nanti.
Biar dia tahu kalau aku benar-benar merindu.
Untuk sebagian orang, mungkin mereka tidak terlalu dekat dan akrab dengan sosok bapak. Tapi tidak denganku, justru aku paling dekat dengannya. Dialah yang meminjamkan pundaknya saat aku menangis, dia yang akan pertama berlari khawatir saat aku terjatuh, dia yang pertama sabar menghadapi ke egoisanku, dan bahkan dia yang pertama menasehatiku saat aku salah. Ahhh.. dia pria yang memang paling mengerti aku.
Marah?
Hampir tidak pernah. Bapak bukan sosok yang suka marah-marah. Lillahi ta’ala, selama 20 tahun aku hidup sebagai puterinya, aku tak pernah sekalipun mendapati bapak bercekak pinggang, membesarkan bola mata, berteriak keras, atau bahkan mengayunkan ikat pinggang di tubuh anak-anaknya.
Tidak! Bapak bukan tidak perduli!
Tapi bapak punya cara tersendiri untuk kepedulian dan kemarahannya.
“Untuk apa bapak marah-marah, untuk apa bapak mukul kakak dengan adik. Itu cuma menyakiti, tak akan memberikan pelajaran yang berarti, kakak dengan adik semakin hari semakin besar, semakin bisa berfikir mana yang baik mana yang buruk, mana yang boleh mana yang tidak. Kekerasan tak akan menghasilkan apa-apa selain kekerasan” Itulah kalimat bapak saat kutanya mengenai keherananku karena bapak tidak marah.
Bapak bukan tidak pernah marah, tapi kemarahannya selalu mendidik dan menghipnotis. Seingatku, dulu aku adalah anak yang nakal, bahkan mungkin hari ini masih seperti dulu, hehee.. 
Pernah pada suatu hari, kalau ingatanku tidak salah saat itu aku masih duduk di bangku MTS. Saat itu aku teramat malas untuk sholat magrib, kebiasaanku kalau lagi malas aku memutuskan untuk melarikan diri dari saff belakang bapak. Dan waktu itu aku mengambil keputusan untuk sholat dikamar, kali ini aku benar-benar malas, jadi kukunci pintu kamar dari dalam. Aku bukannya sholat, hanya mendiamkan diri dikamar beberapa saat. Dan setelah bapak, emak dan adikku selesai sholat, aku membuka pintu dan keluar seperti orang tanpa kesalahan.
Seperti biasa, setelah sholat magrib bapak biasanya menunggu waktu isya’ dengan menikmati secangkir kopi buatan istrinya tercinta, dan begitu pula kali ini. Aku yang saat itu hobby baca sudah menumpukan novel teenlit disamping kursi dudukku. Saat dalam kediaman menikmati lembaran-lembaran cerita, bapakku bilang “Kita boleh sembunyikan apapun dari manusia. Dari mak, dari bapak atau dari siapa saja. Tapi kita tidak bisa menyembunyikan semuanya dari Allah. Allah SWT tu Maha Melihat. Apa yang manusia tak nampak, Allah nampak. Apa yang kita tak dengar, Allah dengar. Lagi pula, Allah dah kirim dah dua malaikat dikiri kanan kita, catat semua yang kita lakukan, kalau kita buat baik masuk kedalam catatan malaikat kanan, kalau kita buat buruk masuklah kita dalam catatan malaikat kiri. Kakak dengan adik boleh menipu mak bapak, tapi tak boleh menipu dengan Tuhan”
Saat itu aku yang merasa sedang dalam sindiran menentang “Kakak tak menipu mak dengan bapak” Kataku secepatnya. Adikku yang sedang belajar pun menjawab dengan jawaban senada.
“Kalau dah berbohong sekali, akan berbohong dua kali. Bapak tahu kakak tak sholat tadi, sekarang kakak dah bohong dua kali, ha kan? Dah masuk catatan malaikat kiri dua kali..” kali ini bapak malah mengungkap kebohonganku dengan nyata. Diakhir kalimatnya biasanya bapak akan terkekeh dengan tawanya yang khas. Adikku yang saat itu masih imut-imutnya bakalan bilang “Ha.. Ha.. Masok nerake, hayolah.. kakak masok nerake” . Ahh.. kalau ingat-ingat saat seperti itu, aku rindu.
Biasanya bapak akan meneruskan menyindirku hingga aku terpojok dan hampir menangis, tapi akhirnya bapak juga yang akan membuatku kembali tertawa.  Bapakku bilang “Buat salah itu biasa, namanya juga manusia. Tapi tak boleh berterusan, sebab nanti jadi kawan setan”
Adikku juga pernah melakukan hal yang sama, pernah merasakan sindiran yang sama. Tapi tetap saja selalu diakhiri dengan tawa yang menyenangkan. Besoknya mungkin kami akan kembali berbuat kesalahan, tapi bapak selalu saja hadir dengan nasihat dalam sindiran-sindirannya yang membungkam.
Setelah aku masuk SMA, sindiran-sindiran semacam itu mulai jarang aku dapatkan. Aku rindu dengan saat-saat seperti itu, karena aku rasa bapak senantiasa menjadi pengkoreksi yang paling teliti, hingga aku akan berbenah setelah bapak mengguruiku.
Bapakku mungkin bukan orang alim dengan sorban dikepala, berjalan dari masjid ke masjid demi membesarkan agama. Tapi bagiku bapak adalah lentera agama dalam keluarga. Banyak pengetahuan dan didikan agama yang kuterima darinya.
Bapakku mungkin bukan sarjana dengan titel Mpd, MA, Profesor atau sejenisnya. Tapi bagiku dia adalah pendidik ulung yang tiada duanya. Bapak hanya tamatan SD, bahkan tidak pernah belajar yang namanya logaritma. Saat aku SD hingga kuliah aku tidak pernah bosan bertanya banyak soalan pada bapak. Kuingat saat MTs, aku akan bertanya mengenai PR matematiaku pada bapak dan biasanya bapak dengan hati-hati akan menekuni buku, dan dalam sekejap dia akan menjelaskannya, tapi sayangnya otakku terlalu lamban untuk menerima pelajaran bernama matematika. Walhasil hasilnya nihil. Hehee.. Maaf pak :* Entah kenapa aku tidak bisa menuruni kemampuan bapak dalam matematika, padahal bapak jagonya. Nilai matematikaku dari SD sampai SMA paling tinggi cuma 75, sementara ijazah bapakku nilai matematinya 95.  Bangga aku jadi puterimu pak :* Itu baru matematika, belum lagi pengetahuannya tentang ilmu fiqih, dan beberapa ilmu lain yang selalu kutanyakan padanya. Ahh.. aku rindu belajar bersama bapak. Apa kabar  ya pak, lidi-lidi sapu emak yang kita gunakan untuk berhitung 10 tahun yang lalu? Hhheee...
Bapakku tak pernah bisa berkendara, kendarannya selama berpuluh tahun ini adalah kedua kaki kokohnya yang kini sedang didiami penyakit bernama rematik. Meskipun begitu bapakku tak pernah berputus asa, dia tak pernah menginginkan kami anak-anaknya menjadi seperti dia. Bahkan saat aku kecil dia akan dengan sabar melatihku menaiki sepeda. Dia adalah guru sepeda yang tak akan pernah membiarkan lututku terluka. Saat sepedaku mulai kehilangan keseimbangan, bapak akan berlari secepat mungkin agar aku jatuh dalam pelukannya. Sayang bapak :*
Bapak adalah pendamai terhebat. Aku pernah dimarahi emak karena kesalahan yang aku lakukan. Aku pernah menghilangkan sesuatu yang teramat penting, dan pada saat itu teramat sangat dibutuhkan. Jujur, aku adalah orang pemarah yang tidak boleh dimarah. Sekali saja aku dikasari dengan kata-kata, airmataku bisa mengalir deras hingga tersedu lelah. Saat itu emak yang sedang emosi memarahiku, walhasil aku menangis sejadi-jadinya, bapak datang menyodorkan pundaknya, membiarkanku menangis sepuasnya, membelai rambutku bersama nasihatnya. Setelah kemarahan emak mereda aku dipujuk untuk terlebih dulu minta maaf, dan hasilnya emak malah memelukku erat dan mencium keningku beberapa kali, mungkin sebagai bentuk penyesalanya karena memarahiku sebentar tadi. Berkat bapak, aku selalu menyayangi emak . Keduanya akan selalu bertahta di dalam doa disepanjang sujudku :*
Bapak adalah wasit terbaik. Aku dan adikku. Si tom and jery yang tidak boleh saling bertemu. Ada saja kejahilan-kejahilan yang sengaja kami lakukan. Entah aku atau adikku, kami sama saja. Sama-sama saling suka mengusik. Pernah suatu hari aku mengusik adikku, hingga dia hampir menangis. Dan hasilnya aku diomelin emak. Pada kesempatan yang lain dia membalasku, dan kali ini aku benar-benar menangis. Sudah kukatakan, aku tidak boleh dikasari dan dimarahi, apalagi oleh orang-orang yang kusayangi. Adikku yang sudah mulai membesar, berhasil membuatku menangis hingga tersedu dan sesak. Aku keluar dari rumah untuk duduk beberapa saat dikejauhan, bapak yang tidak pernah mendapati aku keluar rumah saat malam mulai kebingungan, mencari kesan-kemari hingga aku memunculkan diri. Disaat bersamaan rupanya adikku juga ikut kebingungan mencariku. Setelah kami berjumpa bapak menyuruh kami bertengkar didepannya, dan tentu saja kami berdua saling bungkam dan diam. Pada akhirnya aku dan adikku sepakat untuk berepelukan. Tanda persetujuan sebuah kemaafan. Berkat bapak, aku dan adikku adalah tom and jery yang lucu dan saling merindu :*
Bapakku seperti bapak-bapak yang lain. Lelaki biasa, sederhana dan apa adanya. Keluarga adalah perioritas utamanya. Apa yang kucontoh darinya adalah kegigihannya berusaha dan bekerja untuk dunia dan tidak pernah sekalipun mengalpakan ibadah untuk akhiratnya.  Dia penyumbang motivasi terbesar utama bersama emak, dia penyemangat utama dalam keberhasilan, dia juga penasehat kesehatan terbaik walau dalam jarak yang berjauhan. Apapun tentang bapak, dia adalah pria yang teramat istimewa.
I LOVE YOU BAPAK :* :* :*














Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diary Comel

LAKI-LAKI TADI PAGI oleh : suriyati Bengkalis, 03 Desember 2015 Kulirik handphone, 07:06 WIB Berangkat dengan Selly Sisca MC mengendarai si Ijo kesayangan Misrah menuju Kantor Kementerian Agama Kab.Bengkalis yang jaraknya hanya 5 menit perjalanan dengan kecepatan rendah. Kunikmati perjalanan pagi di sepanjang jalan kelapapati darat ini dalam keheningan. Tak ada pembicaraan dan suara perbualan basa basi seperti biasanya. Aku tertegun, Bola mataku terpaut pada sebuah pemandangan yang sungguh indah. “Seorang laki-laki yang menakjubkan” Bathinku. Tiba-tiba saja aku teringat akan laki-laki terhebat dirumah yang saat ini tengah membanting tulang untuk isteri dan anak-anaknya, Ayah. Miss You. Ku simpan ayah dihati dengan doa yang senantiasa mengiringi. Lanjutkan dengan ketakjubanku pada sosok laki-laki yang kulihat pagi tadi. Kugambarkan sosoknya yang terlihat oleh mata. Dari wajahnya kutaksir usianya sekitar 28-35 tahun. Terlihat tampan dan gagah denga pakaian dinas. K...

CERPEN GLOBAL DIALOG

Kartini Menangis Oleh SURIYATI Kebebasan hak wanita, bukankah sudah diperjuangkan seorang pahlawan bernama Kartini?. Tapi kenapa masih ada saja perbudakan wanita di negara ini. Haruskah wanita menyalahkan Megawati Soekarno Putri. “Ahh entahlah aku tak mengerti tentang kebebasan wanita dinegara ini” gerutu Aisyah dalam hati. Dia terus melangkahkan kaki menuju kos-kosan, setelah menghabiskan 4 jam diruang kuliahnya. Langkahnya terhenti saat mendengar sebuah suara menyerukan namanya. Dia menoleh dengan cepat. “Siapa ya?” Tanya Aisyah seraya tersenyum karena merasa tidak mengenali sosok yang memanggilnya. Seorang gadis bertubuh sangat kurus tinggi, mengenakan gamis, kepalanya dibalut dengan pashmina ber warna senada baju yang digunakannya. “Aku Riana. Masih ingat? Teman sekelasmu saat SD!” Wanita dihadapan Aisyah mengulurkan tangannya, walaupun masih bingung Aisyah menyambut tangan itu dan mengenggamnya hangat. Matanya masih menatap Riana, dari ekspresinya terlihat sepertinya...