Langsung ke konten utama

CERPEN GLOBAL DIALOG

Kartini Menangis
Oleh SURIYATI
Kebebasan hak wanita, bukankah sudah diperjuangkan seorang pahlawan bernama Kartini?. Tapi kenapa masih ada saja perbudakan wanita di negara ini. Haruskah wanita menyalahkan Megawati Soekarno Putri.
“Ahh entahlah aku tak mengerti tentang kebebasan wanita dinegara ini” gerutu Aisyah dalam hati. Dia terus melangkahkan kaki menuju kos-kosan, setelah menghabiskan 4 jam diruang kuliahnya. Langkahnya terhenti saat mendengar sebuah suara menyerukan namanya. Dia menoleh dengan cepat.
“Siapa ya?” Tanya Aisyah seraya tersenyum karena merasa tidak mengenali sosok yang memanggilnya. Seorang gadis bertubuh sangat kurus tinggi, mengenakan gamis, kepalanya dibalut dengan pashmina berwarna senada baju yang digunakannya.
“Aku Riana. Masih ingat? Teman sekelasmu saat SD!” Wanita dihadapan Aisyah mengulurkan tangannya, walaupun masih bingung Aisyah menyambut tangan itu dan mengenggamnya hangat. Matanya masih menatap Riana, dari ekspresinya terlihat sepertinya dia sedang berpikir keras dan mengingat-ingat.
“Kamu mungkin lupa denganku Aisyah, karena dulu kita tidak pernah akrab, kamu selalu menyapaku dan aku tak pernah membalasnya. Kamu ingat?. Si gadis sombong.” Riana tersenyum melihat ekspresi lucu Aisyah yang tiba-tiba saja berubah.
***
Penghujung tahun 2004, seorang siswa yang berasal dari kota Bandung pindah ke tempat terpencil dari bagian Indonesia yang di peta saja tidak tergambarkan. Tempat itu adalah pulau Kundur. Sebuah pulau kecil yang merupakan bagian dari provinsi Kepulauan Riau. Siswa itu adalah Riana Adiba, sosok yang pendiam dan tidak banyak bicara. Banyak komentar miring yang datang seiring kedatangan Riana. Dan yang paling menarik perhatian Aisyah adalah komentar terburuk yang paling sering dia dengar “Riana Adiba adalah pelacur”.
Aisyah tak habis pikir, bagaimana mungkin gadis kecil berusia 10 tahun menjadi pekerja seks, yang mereka sendiri belum tahu benar seks itu apa. Menstruasi saja belum. Rasa penasaran Aisyah sebagai orang yang selalu berusaha akrab dengan Riana membuatnya pergi lebih jauh.
Pada suatu hari, sebulan setelah Riana masuk sekolah. Aisyah membuntutinya pulang. Dia terkejut begitu mengetahui Riana tinggal disebuah tempat yang dikenal sebagai lokalisasi pelacuran di pulau Kundur, tapi Aisyah tak berpikir negatif tentang gadis pendiam itu. Berkali-kali dia mencoba menyapanya, tapi selalu tatapan dingin yang dia terima sebagai balasannya.
Bagi anak-anak disekolah Aisyah, pelacur, pekerja seks, lonte, ayam kampung atau apalah itu tidak lagi tabu. Tepat didepan gerbang sekolah mereka saja tempat pelacuran, dan anehnya tempat itu tidak dilarang. Banyak wanita berpakaian setengah telanjang berkeliaran didepan generasi harapan bangsa yang sedang mengenyam pendidikan dasar. Di dalam kelas para guru sibuk mengajari tentang moral, sementara diluar kelas yang mereka pelajari setiap hari adalah hal-hal tak bermoral. Sungguh miris.
Tujuh bulan sebagai siswa di pulau Kundur, Riana masih tidak berteman. Gunjingan buruk pun masih saja terdengar disana-sini. Aisyah sudah tidak lagi bersikukuh ingin tahu tentangnya, lagipula jika benar dia pelacur Aisyah tidak bisa melakukan apa-apa. Bisa apa anak SD seusianya?.
Sebulan sebelum ujian kelulusan, Riana beberapa kali absen. Tidak ada satupun yang tahu keberadaannya. Ada juga beberapa orang yang mengatakan dia habis dipukuli oleh tantenya karena berusaha kabur dari rumah. Aisyah sempat ingin mencari Riana, tapi mengingat tempat tinggal gadis pendiam itu adalah lokasi yang paling di larang oleh orang tuanya, Aisyah mengurungkan niatnya.
Ujian selesai, perpisahan sudah, Ijazah sekolah dasar juga sudah ditangan. Tapi kabar tentang Riana tidak kunjung terdengar. Melanjutkan pendidikan ketingkat menegah pertama membuat Aisyah bisa melupakan gadis pendiam yang senatiasa menjadi tanda tanya dikepalanya.
***
“Semua yang kamu dengar tentang aku dulu itu benar Aisyah. Tanteku, dia adalah mami dilokaliasai pelacuran tempatku tinggal. Aku dibesarkan oleh eyangku di Bandung, tante meminta izin dengan eyang membawaku bersamanya. Dia bilang dengan eyang mau menyekolahkan aku disana. Anak kecil bisa apa, cuma mampu menurutinya saja. Maaf karena waktu itu aku tak menanggapi sikap tulusmu ingin berteman denganku” Riana mengakiri kalimatnya, airmata yang mengalir dibiarkannya terus mengalir. Aisyah memeluk tubuh kurus itu, ada guncangan dahsyat saat tubuh itu berada didekapannya.
“Menangislah! Keluarkan semua yang ada dihatimu. Aku ada untuk mendengarkanmu” Kata Aisyah sambil menyeka matanya yang sudah basah sedari tadi.
Hampir setengah jam mereka saling diam, Riana menyelesaikan isaknya yang terasa menghimpit dada. Matanya merah dan bengkak, tapi senyum mulai mengembang lebar diwajahnya. Aisyah pula menatapnya sendu, hatinya terluka mendengar kisah pahit temannya itu.
“Bagaimana kamu bisa ada dikota ini? Apa yang kamu lakukan disini?” tanya Aisyah yang masih belum terpuaskan rasa penasarannya.
Riana menarik nafas sejenak, lalu menghembuskannya pelan, lalu melanjutkan ceritanya “Saat aku berhenti dari sekolah, aku dikirim tanteku ke rumah pelacurannya di Batam. 2 tahun disana aku berhasil kabur. Berbekal uang tabungan dan sedikit uang yang aku curi darinya, aku memberanikan diri pergi ke Tanjung Pinang. Untuk menyambung hidup aku bekerja sebagai kuli kedai. 2 tahun disana aku mendengar kabar lokalisasi tanteku dihancurkan. Takut dia mencariku, aku lari ke Selat Panjang. 7 bulan ditempat itu, aku pindah ke sini. Aku di Pekanbaru ini sudah 4 tahun lebih. Dan sekarang aku bekerja disebuah tempat, memberi motivasi untuk orang yang putus asa, dan mengisi seminar terkadang”
Riana tersenyum, sementara Aisyah masih saja menitiskan airmatanya, sesekali tanganya menyeka.
“Sudah Aisyah, hidupku sudah tidak sesedih dulu. Ada seseorang yang baik memberikan aku peluang besar. Aku selalu diajak saat beliau mengisi seminar, bahkan aku juga pernah diajak untuk ikut pelatihan NLP di Sulawesi, dan sekarang aku hidup seperti ini” kali ini Riana benar-benar tersenyum lebar sambil berkaca-kaca. Aisyah memeluknya erat.
“Kalau kamu ada waktu, datanglah ke Islamic Center kampusmu besok pagi. Aku ada disana” bisik Riana ditengah peluk eratnya.
***
Minggu pagi, setelah menyelesaikan sholat subuh. Ingin rasanya dia melanjutkan tidur. Tapi bisikan Riana semalam, membuat kantuknya mendadak hilang. Dalam sekejap di bergegas mengemasi kamar tidurnya, menyetrika baju dan mandi. Pukul setengah delapan, Aisyah berjalan menuju Islamic Center kampusnya. Banyak tanda tanya di benaknya, keherananya semakin bertambah saat dilihatnya Islamic Center sudah penuh sesak dengan mahasiswa. Di sana ada sebuah baliho bertuliskan seminar nasional dengan tema “Kartini Menangis”. Pembicaranya dua orang, satu laki-laki yang tidak lain adalah pakar kesehatan alias dokter dan yang satunya lagi wanita yang tidak lain dan tidak bukan yaitu menteri pemberdayaan wanita.
“Ngapain si Riana kemari, dia mau ikutan seminar? Bagaimana aku menemukannya ditengah keramaian seperti ini?” bathin Aisyah.
Hampir tiga jam dia mengikuti seminar yang isinya tentang kekerasan terhadap wanita, wanita sebagai budak seks dan yang paling akhir tentang HIV/Aids yang banyak dialami oleh wanita. Aisyah mulai bosan dengan seminar yang pembicaranya ngoceh terus, apalagi Riana yang sedari tadi dicarinya tak kunjung muncul.
Aisyah mulai gusar, beranjak dari tempat duduknya dan berencana untuk keluar.  Namun langkah pertamanya tertahan saat mendengar kalimat terakhir yang disebutkan oleh pembicara kedua. “Kali ini kami menghadirkan seorang wanita yang tak pernah putus asa dengan hidupnya walaupun berkali-kali merasakan ketidakadilan dan pelecehan, dan sekarang statusnya adalah penderita penyakit mematikan Aids, tapi dia tetap saja masih semangat dengan hidupnya. Ini dia Riana Adiaba”
Aisyah terpaku, tubuhnya mendadak kaku. Matanya menatap tajam kedepan, lututnya terasa lemah. Tepat dihadapanya berdiri Riana, kawan kecilnya itu tersenyum ceria sambil memegang mikrofon dan menyuarakan kalimat-kalimat motivasi. Ruangan yang awalnya berisik mendadak hening saat Riana memulai ceritanya. Aisyah terduduk kembali, airmatanya sudah mengalir deras, bahkan tubuhnya terguncang hebat. Seisi ruangan mulai dipenuhi kesedihan, airmata satu peratu berjatuhan dari pemilik mata yang jumlahnya mungkin lebih dari seribu orang. Satu jam penuh dengan kesedihan, dan dimenit-menit pengakhiran Riana berhasil mengubah suasana ruangan menjadi suara-suara yang menyuarakan semangat untuknya. Saat itu tubuh Riana melemas, dan tiba-tiba saja dia rebah. Allah SWT lebih sayang kepadanya, dia mengakhiri hidupnya setelah berhasil menyentuh banyak hati untuk lebih semangat hidup dan tidak berputus asa.
***
Aisyah terduduk ditanah perkuburan yang masih merah, walaupun matanya bengkak, airmatanya masih enggan untuk sudah. Seorang laki-laki yang tidak dikenali menghampirinya.
“Aisyah?” tanyanya. Aisyah mengangguk lemah. Laki-laki itu menyerahkan sebuah kotak biru. Aisyah membukanya, sebuah diary berwarna serupa menarik perhatiannya. Dia membuka dan menemukan sebuah surat kecil didalamnya, di membuka dan membacanya.
Dear Aisyah,
Heii cantik
Kau tahu? Aku tak pernah berteman dengan siapapun. Hanya kau satu-satunya orang yang berusaha keras ingin menjadi temanku. Tapi aku terlalu kaku untuk memulai bagaimana caranya berteman. Maafkan aku menghampakan ketulusan permintaanmu.
Bagaimana kabar pulau kundur? Masihkah sama? Pelacuran dimana-mana? Anak sekolah menjadi korbanya? Hhii .. hii... Kurasa sudah tidak. Benarkan?
Aku rindu denganmu, dengan kau yang tidak pernah bosan menyapa. Maafkan aku yang dulu tak membalas sapaanmu.
Saat kau menerima ini ku yakin kau sedang menangis bukan, hayooo? Pasti iya, jika kau tidak sedang menangis, pasti setelah membaca ini kau akan menangis J
Jangan sedih! Aku paling benci wanita cengeng. Kau harus kuat, Aisyah ku sayang            . Jangan pernah menyesal dengan apa yang terjadi, ini takdir. Kau harus belajar menerimanya.
Kau tahu kenapa aku masih bertahan hingga hari ini? Karena aku ingin menjadi seperti Kartini. Aku ingin memperjuangkan hak dan kebebasan untuk wanita, aku ingin memberikan contoh sebagai wanita mandiri. Aku tak ingin menjadi wanita lemah yang selalu menangis. Dalam pikiranku, Saat Ibu Kartini mendengar kisah hidupku, beliau pasti menangis. Dan kau tahu? Aku tak ingin ditangisi karena aku begitu lemah. Tapi biarlah mereka menangis karena tahu aku berusaha keras untuk melanjutkan hidupku hingga akhir.
Kau tahu? Kau adalah salah satu motivasi hidupku, Dalam akhir sujud aku selalu meminta kepada Tuhan agar mempertemukan kita. Walaupun Cuma sekali, aku sangat ingin  bertemu denganmu dan menyapamu terlebih dahulu. Meminta maaf atas penghampaan yang pernah aku lakukan. Maafkan aku, wahai Aisyah. Sahabatku tersayang.
Kau tahu? Seumur hidupku, Aku paling benci menunggu, waktuku sangat berharga, Tapi demi kau aku rela menunggu 4 jam disana agar bisa menyapamu terlebih dahulu, Walau terdengar lucu, Ku harap itu bisa membuatmu benar-benar menerima permintaan maaf tulus dariku.
Sudah! Berhenti menangis. Jadilah kuat. Kau harus menjadi Kartini selanjutnya di pulau Kundur. Bebaskan wanita dari budak nafsu, jauhkan generasi bangsa dari free sex, HIV dan Aids. Kau Bisa! J
Be Fight Aisyah!
Aisyah menyeka airmatanya, menegadahkan tanganya dan berdoa untuk sahabatnya. Senyum mulai terlukis diwajahnya, walaupun matanya masih berkaca-kaca. Amanah dari Riana terlalu besar untuk dihadapinya dengan airmata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diary Comel

LAKI-LAKI TADI PAGI oleh : suriyati Bengkalis, 03 Desember 2015 Kulirik handphone, 07:06 WIB Berangkat dengan Selly Sisca MC mengendarai si Ijo kesayangan Misrah menuju Kantor Kementerian Agama Kab.Bengkalis yang jaraknya hanya 5 menit perjalanan dengan kecepatan rendah. Kunikmati perjalanan pagi di sepanjang jalan kelapapati darat ini dalam keheningan. Tak ada pembicaraan dan suara perbualan basa basi seperti biasanya. Aku tertegun, Bola mataku terpaut pada sebuah pemandangan yang sungguh indah. “Seorang laki-laki yang menakjubkan” Bathinku. Tiba-tiba saja aku teringat akan laki-laki terhebat dirumah yang saat ini tengah membanting tulang untuk isteri dan anak-anaknya, Ayah. Miss You. Ku simpan ayah dihati dengan doa yang senantiasa mengiringi. Lanjutkan dengan ketakjubanku pada sosok laki-laki yang kulihat pagi tadi. Kugambarkan sosoknya yang terlihat oleh mata. Dari wajahnya kutaksir usianya sekitar 28-35 tahun. Terlihat tampan dan gagah denga pakaian dinas. K...

Diary Comel

RINDU,   INI BAPAK KU Pada sosoknya yang mulai menua, masih terlihat bias-bias ketampanan meski kerut wajahnya kian bertambah, badannya yang tegap kini mulai melemah, perutnya yang gendud mulai sedikit bergelambir. Meskipun begitu, di mataku dia tetap Pria tanggguh yang bijaksana, suami yang selalu berlemah lembut dengan isterinya, ayah terbaik yang selalu mendidik dan tidak pernah memarahi putra putrinya, kepala keluarga yang selalu tahu bagaimana menasehati dengan cara yang terbaik. Dialah bapakku. Raja yang tahtanya tidak pernah tergantikan dihatiku. I love u bapak :* Demi pendidikan dan masa depan,   kuhabiskan 6 tahunku tanpa makan malam bersama keluarga. Tiga tahun masa SMA, kuhabiskan waktuku dirumah paman, selanjutnya kujalani tiga tahunku di pulau perantauan. Tahu bagaimana rasanya rinduku? Entahlah, aku sendiri sulit menggambarkannya. Kuharap, waktu berjauhan ini segera berakhir, aku ingin kembali bersama mereka yang paling kucinta. Aku ingin kembali meras...