Langsung ke konten utama

NGGAK ADA IDE !!!


“Ahh.. Sudah lah! berita apa sih yang begitu penting sampai kamu ngotot banget pengen aku ngebacanya, tiap hari aku lihat tuh mading nggak ada yang spesial, Gitu-gitu aja, Nggak kreatif dan terlalu monoton. Membosankan!!” Gerutu Ladia saat sahabatnya si Chaca sedikit memaksannya membaca mading.
“Kali ini percaya deh, ada something special yang bakalan bikin kamu histeris jungkir balik kegirangan” Chaca masih dengan sedikit memaksa menyuruh Ladia membaca info di mading kampus pagi itu.
Ladia dan Chaca adalah dua gadis yang telah bersahabat sejak SMA, Dan sekarang mereka kuliah di kampus yang sama dan jurusan yang sama pula. Keakraban mereka di awali dari berbagai macam kesamaan yang mereka miliki. Sama-sama hobby nulis dan doyan sastra. Di bangku kuliah ini Chaca mengembangkan bakatanya dengan bergabung di grup kreasi mading kampus, sementara Ladia bergabung dengan grup koran kampus.
“Please!! Kali ini baca mading, anak mading dapat info yang bikin kamu spicles pastiya” Lagi-lagi Chaca mencoba membujuk Ladia.
“Oke untuk kali ini! besok-besok kalo madingnya nggak berubah dan gitu-gitu aja, Aku malas ngebaca lagi” Jawab Ladia, tentu saja Chaca tersenyum senang karena bujukannya berhasil. Ladia melangkahkan kaki kearah mading yang sudah penuh sesak oleh mahasiswa.
Di dalam hatinya membathin, mading yang biasanya cuma di lirik sekilas sekarang malah jadi pusat perhatian mahasiswa, ada apa?
“Woaaaa... Kenapa nggak bilang dari tadi sih Chaca” teriak Ladia saat ia berhasil membaca isi mading. Chaca Cuma bisa terkekeh melihat tingkah polah sahabatnya itu.
“Kamu ini ya, Kenapa nggak bilang aja sih, Pake acara nyuruh aku baca mading segala, Apapun juga makasih Chacaku sayang” Kata Ladia sambil memeluk erat sahabatnya.
“Makanya besok-besok jangan bosan ikut aku main ke mading, nggak bayar kok! Lagian bukan anggota juga nggak papa, jadi kalo ada info-info perlombaan menulis kamu tuh nggak ketinggalan”
“Iya iya Chaca. Besok aku nggak akan bosan deh ikut nimbrung di mading”
Barusan anak-anak mading memposting info mengenai event perlombaan menulis cerpen bagi seluruh mahasisawa universitas yang ada kota pekanbaru. Event ini hanya di lakukan satu tahun sekali. Wajar saja ini sangat di nanti-nantikan oleh mahasiswa yang suka dengan dunia tulis-menulis. Begitu juga dengan Ladia, dia salah satu orang yang selalu menantikan event ini, tahun lalu dia ikut berpartisipasi dan hasilnya Ladia hanya bisa membawa pulang sertifikat menduduki peringkat ke-4. Kegagalannya tahun lalu tak membuat Ladia patah semangat, dan dia ingin mencoba kembali di tahun ini.
***
Ladia benar-benar tidak konsentrasi terhadap mata kuliah model-model konseling kali ini. Perlombaan tinggal satu minggu lagi, tapi dia belum menemukan ide yang pas untuk cerpennya, tema event kali ini tentang otak kanan. Entah cerita apa yang harus dia rangkai tentang otak kanan. Benar-benar rumit batinnya.
Ladia banyak melamun di sepanjang kelas hari ini. Namun begitu, samar-samar Ladia masih bisa mendegar suara dosennya. Saat seisi kelas hening dan focus mendengar penjelasan dosen, tiba-tiba..
“Ohh.. teori Carl Jung dan Sigmun Frued” jerit Ladia dari lamunanya.
Seisi kelas mendadak menoleh ke arahnya, Ladia tertunduk malu.
“Benar Ladia, kedua teori itu menjelaskan tentang alam bawah sadar manusia, Akan tetapi Carl Jung lebih focus kepada self atau kepribadian” kata ibu Sila, dosen yang sedang mengajarnya saat itu. Ladia mengankat kepalanya dan melihat sekeliling dengan penuh heran.
Apa yang benar? Padahal dia menyebutkan dua teori tadi dari lamunanya karena dia berfikir untuk mengangkat dua teori itu dalam cerpennya. Sekarang malah di benarkan oleh dosennya, dan seisi kelas yang sedari tadi memperhatikannya memberikan tepuk tangan meriah. Keheranan Ladia tidak habis hingga kelas model-model konseling selesai.
“Hebat kamu Lad” puji Chaca.
“Hebat? hebat apanya?” tanya Ladia masih dengan penuh heran.
“Iya hebat, saat ibu Sila bertanya. Kamu langsung bisa menjawab kedua teorinya”
“Menjawab? Jawab apa?”
“Jiahhh.. Parah! Tadi itu ibu Sila nanyain teori tentang alam bawah sadar manusia, dan dalam konseling itu yang udah kita pelajari cuma Sigmun Frued aja, tapi kamu bisa ngejawab dengan cepat sekaligus teori Carl Jung”
Kini Ladia baru mengerti, keheranannya terjawab sudah. Dia tersenyum sambil memandang Chaca yang balik menjadi heran melihat tingkahnya.
***
Ladia sudah memutuskan mengangkat teori Carl Jung dan Sigmun Frued yang mengungkapkan tentang teori alam bawah sadar manusia, Otak kanan sangat erat kaitannya dengan alam bawah sadar. Ladia mengobrak-abrik semua buku psikologi dan konseling di kos nya, Beberapa buku sudah di baca dan di simpulkannya.
Kini Ladia lebih suka menyendiri dengan kertas-kertas Hvs nya. Berlembar-lembar kertas Hvs putih telah memenuhi tong sampah di kamarnya, Sudah berpuluh kali Ladia mengulang menuliskan idenya tentang Sigmun Frued dan Carl Jung, tapi hasilnya nihil. Dia selalu buntu meneruskan tulisannya hingga ke ending.
Tidak hanya di kos, di kelas kampus Ladia juga melakukanya, Walhasil saat pulang kampus berlembar-lembar kertas Hvs putih berisi cerpen setengah jadi Ladia bertebaran di lantai, Awalnya petugas kebersihan kampus pun sempat menggerutu, tapi belakangan malah asyik membaca potongan cerpen setengah jadi Ladia sebelum melanjutkan kerjaannya.
Seminggu berlalu, 
Hari ini hari terakhir pengumpulan cerpen melalui E-mail maupun langsung ke sekertariat panitia. Ladia masih menuliskan cerpennya saat jam kuliah selesai, tapi lagi-lagi dia tak tau bagaimana meneruskan hingga endingnya. Dia menggumpal kertas-kertas hvs putih itu lalu di lemparkannya ke lantai.
“Nggak jadi ikut ahh Cha, Capek, seminggu coba aku tulis tapi nggak bisa sampai ending, mungkin bukan kesempatan buat aku ikut. Nggak ada ide!!” kata Ladia lesu. Chaca mengerti sahabatnya benar-benar menunggu event itu dan berusaha agar bisa mengikutinya lagi. Tapi Chaca juga tidak bisa membantu, karena Chaca juga tidak bisa menulis cerpen, yang dia bisa hanya menulis puisi-puisi romantis dan religius.
Ladia benar-benar memutuskan untuk tidak mengikuti perlombaan itu, Meskipun awalnya dia begitu bersemangat menantikannya, tapi ide tak kunjung muncul di benaknya. Ya sudahlah anggap saja kali ini bukan saatnya untuk berpartsisipasi. Menyerah jawaban terakhir yang muncul dari seorang Ladia.
***
Sebulan berlalu,
Ladia sudah melupakan tentang sedikit kekesalnya karena tidak bisa mengikuti event perlombaan yang sangat di inginkan, Pagi itu dia bersemangat seperti biasa melangkahkan kaki ke peralataran kampus. Ketika memasuki gedung fakultasnya, dinding mading yang biasanya lengang lagi-lagi di sesaki mahasisawa. Tapi kali ini Ladia benar-benar tidak tertarik untuk menghampirinya, Ladia langsung melangkahkan kaki ke ruang kelasnya.
“Wiiss, gila ya kamu. Mau bikin kejutan ternyata ya? Sok-sok nggak mau ikut” Itu lah kata sambutan yang keluar dari Chaca begitu Ladia menghampirinya.
“Kejutan? Kejutan apa?” Ladia keheranan
“Masih sok-sok nggak tau kamu ya. Udah lah aktingnya”
“Akting apa lagi nih, coba jelasin. Aku nggak ngerti maksudnya apa” Ladia semakin heran.
“Selamat Ladiaku sayang, akhirnya cerpen kamu jadi yang terbaik tahun ini dan kamu jadi pemenang pertama dengan teori Sigmun Frued dan Carl Roger kamu itu” Kata Chaca setengah mati girangnya. Ladia Cuma bengong mendengar ucapan Chaca.
“Cerpen? Menang? Menang apa? Kan aku nggak ikut Lomba. Kamu sendiri kan tahu aku tu nggak ada ide mau ikutan, Ngaco ahh! Bikin mood aku ilang aja” Ladia cemberut. Chaca memandangnya heran. Seseorang menghampiri Ladia, dia adalah Arya, Cowok yang belakangan di gosipin naksir Ladia. Tapi Ladia selalu cuek akan keberadaannya.
“Maaf lad, nih aku mau balikin sesuatu yang memang milik kamu” Kata Arya sambil menyerahkan sebingkis amplop coklat berukuran besar .
“Aku?”
“Iya..”
“Apa ini?” tanya Ladia penasaran sambil membuka amplop itu perlahan,
Nafas Ladia terhenti sejenak, di bacanya isi amplop dengan penuh rasa tak percaya. Sebuah sertifikat penghargaan sebagai pemenang pertama atas nama dirinya tertera di sana, Di dalam nya juga uang tunai sejumlah 2 juta. Ladia masih tak percaya, di bacanya kembali sertifikat yang ada di tangannya.
“Ini beneran? Aku nggak mimpi kan?” Kata Ladia sambil mencubit pipinya sendiri, dan dia merasakan sakit sebagai pertanda bahwa dirinya masih sadar.
“Iya itu punya kamu, Maaf ya tanpa izin kemarin waktu aku pulang dari kampus aku mengambil potongan –potongan cerpen setengah jadi milik kamu, dan aku mengabungkan isi beberapa kertas yang sudah kamu buang menjadi karya yang utuh dan aku mengirimkannya ke panitia atas nama kamu” Jelas Arya.
Ladia menatap wajah Arya, laki-laki yang selama ini di acuhkannya begitu peduli dan melakukan sesuatu yang tak pernah di duganya. Ladia sangat berterimakasih pada Arya, entah bagaimana caranya membalas semua kebaikan laki-laki itu.
Tapi semenjak kejadian itu, Ladia tak lagi mengacuhkan Arya dan Ladia pun memutuskan untuk bergabung dengan grup mading kampus tanpa harus meninggalkan grup koran kampus. Kini Ladia lebih rajin berlatih menulis, dia tak lagi membuang potongan-potongan cerpen setengah jadinya, dia menyimpan dan mencoba mengabungkannya menjadi sebuah karya. Belajar dari pengalaman.

Komentar

  1. Salam. Bagus Blognya ya, Sur, Hebat!!!. ini baru namanya mahasiswa kreative. sukses selalu ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waalaikumussalam,
      Aamiin Ya Robbal Alaminn.. Makasih pak, Sukses juga buat bapak :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diary Comel

LAKI-LAKI TADI PAGI oleh : suriyati Bengkalis, 03 Desember 2015 Kulirik handphone, 07:06 WIB Berangkat dengan Selly Sisca MC mengendarai si Ijo kesayangan Misrah menuju Kantor Kementerian Agama Kab.Bengkalis yang jaraknya hanya 5 menit perjalanan dengan kecepatan rendah. Kunikmati perjalanan pagi di sepanjang jalan kelapapati darat ini dalam keheningan. Tak ada pembicaraan dan suara perbualan basa basi seperti biasanya. Aku tertegun, Bola mataku terpaut pada sebuah pemandangan yang sungguh indah. “Seorang laki-laki yang menakjubkan” Bathinku. Tiba-tiba saja aku teringat akan laki-laki terhebat dirumah yang saat ini tengah membanting tulang untuk isteri dan anak-anaknya, Ayah. Miss You. Ku simpan ayah dihati dengan doa yang senantiasa mengiringi. Lanjutkan dengan ketakjubanku pada sosok laki-laki yang kulihat pagi tadi. Kugambarkan sosoknya yang terlihat oleh mata. Dari wajahnya kutaksir usianya sekitar 28-35 tahun. Terlihat tampan dan gagah denga pakaian dinas. K...

CERPEN GLOBAL DIALOG

Kartini Menangis Oleh SURIYATI Kebebasan hak wanita, bukankah sudah diperjuangkan seorang pahlawan bernama Kartini?. Tapi kenapa masih ada saja perbudakan wanita di negara ini. Haruskah wanita menyalahkan Megawati Soekarno Putri. “Ahh entahlah aku tak mengerti tentang kebebasan wanita dinegara ini” gerutu Aisyah dalam hati. Dia terus melangkahkan kaki menuju kos-kosan, setelah menghabiskan 4 jam diruang kuliahnya. Langkahnya terhenti saat mendengar sebuah suara menyerukan namanya. Dia menoleh dengan cepat. “Siapa ya?” Tanya Aisyah seraya tersenyum karena merasa tidak mengenali sosok yang memanggilnya. Seorang gadis bertubuh sangat kurus tinggi, mengenakan gamis, kepalanya dibalut dengan pashmina ber warna senada baju yang digunakannya. “Aku Riana. Masih ingat? Teman sekelasmu saat SD!” Wanita dihadapan Aisyah mengulurkan tangannya, walaupun masih bingung Aisyah menyambut tangan itu dan mengenggamnya hangat. Matanya masih menatap Riana, dari ekspresinya terlihat sepertinya...

Diary Comel

RINDU,   INI BAPAK KU Pada sosoknya yang mulai menua, masih terlihat bias-bias ketampanan meski kerut wajahnya kian bertambah, badannya yang tegap kini mulai melemah, perutnya yang gendud mulai sedikit bergelambir. Meskipun begitu, di mataku dia tetap Pria tanggguh yang bijaksana, suami yang selalu berlemah lembut dengan isterinya, ayah terbaik yang selalu mendidik dan tidak pernah memarahi putra putrinya, kepala keluarga yang selalu tahu bagaimana menasehati dengan cara yang terbaik. Dialah bapakku. Raja yang tahtanya tidak pernah tergantikan dihatiku. I love u bapak :* Demi pendidikan dan masa depan,   kuhabiskan 6 tahunku tanpa makan malam bersama keluarga. Tiga tahun masa SMA, kuhabiskan waktuku dirumah paman, selanjutnya kujalani tiga tahunku di pulau perantauan. Tahu bagaimana rasanya rinduku? Entahlah, aku sendiri sulit menggambarkannya. Kuharap, waktu berjauhan ini segera berakhir, aku ingin kembali bersama mereka yang paling kucinta. Aku ingin kembali meras...