Langsung ke konten utama

PERNIKAHAN AYAH



“Menikah? Tidak ayah, Annisa tidak mau punya ibu tiri. Kalau ayah mau menikah lagi jangan bawa wanita itu ke rumah ini, dan Annisa juga tidak sudi memanggilnya ibu.” Begitulah jawabku saat ayah meminta pendapatku tentang menikah.
“Dengarkan ayah dulu sayang” Kata ayah membujukku lembut.
“Tidak! Sekali Annisa bilang tidak berarti tidak, kalau ayah masih juga tetap akan menikah, Annisa dengan senang hati akan angkat kaki dari rumah ini. Jangan katakan apa-apa lagi tentang pernikahan, Annisa muak mendengarnya” Jawabku kesal, setelah itu biasanya aku akan berlari ke kamar dan menguncinya dari dalam. Menangis sepuasnya tanpa perduli pada ayah yang terus saja membujukku di luar sana.
Mungkin ayah tidak perduli dengan semua yang aku katakan meskipun ayah sempat membujukku dan mengatakan tidak akan menyinggung tentang pernikahan, Tapi ayah masih saja memperkenal kan beberapa teman wanitanya. Ahhh entah lah, mungkin ayah pikir aku hanya muak sesaat, Lantas lupa dan menerima salah satu teman wanitanya itu menjadi ibu tiriku.
Entah mengapa aku sangat membenci semua wanita-wanita yang ayah perkenalkan padaku, padahal mereka baik semuanya. Ahh lagi-lagi aku berfikir mereka baik hanya untuk sesaat, setelah menjadi ibu tiri mereka semuanya pasti jahat. Mungkin aku berfikir seperti itu karena aku masih berharap ibuku kandungku datang kembali. Walaupun sejak aku mengenali apa itu ayah dan ibu aku tak pernah mengetahui keberadaannya.
***
“Annisa, pulang sekolah nanti tunggu ayah pulang dari kantor ya, kita makan di luar” kata ayah pagi itu, saat aku sedang siap-siap berangkat ke sekolah.
“Insha’Allah yah, Annisa akan keluar bersama ayah tapi tidak boleh ada tante Widia, tante Rita, tante Ani dan ntah siapa lagi lah itu. Annisa mau makan sama ayah kalau cuma berdua. Assalamualaikum” Jawabku panjang sambil mengecup tangannya dan mengucapkan salam.
Entah ember bocor mana yang sudah menumpahkan isinya, kini di sekolahku mulai muncul selentingan-selentingan aneh yang tidak mengenakkan untuk ku dengar. Berita tentang ayah akan menikah lagi sudah menyebar sampai di sekolah, beberapa siswa di sepanjang koridor kelas berbisik sambil meliriku aneh. Begitu juga di dalam kelas, selentingan-selentingan itu semakin membuatku merasa panas.
“Aku denger ayah kamu lagi deket sama tentenya Dodi ya?” Tanya Alika yang merupakan teman sekelasku. Aku hanya memandangnya tajam, sekilas Alika terlihat sinis, cekikikan bersama beberapa orang sahabatnya dan melangkah keluar. Tidak hanya sampai di situ. Berbagai macam lagi kalimat menghiasi hariku selama di sekolah.
“Ayah kamu sekarang main sama janda ya?”
“Wah, sebentar lagi bakalan dapat mama baru. Selamat ya”
“Hati-hati loh, Ibu tiri itu biasa baik di awalnya aja. Di akhirnya tau sendiri deh”
“Udah kenalan belum sama tante Widia? Tantenya Dodi itu loh. Katanya sih janda tanpa anak gitu, aku denger-denger dia calon mama baru kamu ya”
Begitulah kalimat-kalimat yang ku dengar , Ada ucapan selamat, cemo’oh, nakut-nakutin dan sebagainya. Mendadak aku seperti entertainer yang baru aja naik daun, terus di kelilingi reporter kepo yang suka iseng sama pertanyaanya. Dan yang anehnya gosip yang menyebar hanya kedekatan ayah dan tante Widia, padahal banyak wanita lain yang ayah sudah perkenalkan padaku, kenapa harus tantenya Dodi, salah satu biang kerok sekolah yang paling ku benci. Gila! ini benar-benar membuatku stress tingkat tinggi.
***
Kabar tidak mengenakkan itu tidak saja beredar di sekolah, ternyata juga di sekitar kompleks tempat tinggalku. Setiap kali aku pulang sekolah dan melewati jalanan itu ibu-ibu yang kurang kerjaan berbisik lalu melirik, dan sesekali ku dengar mereka melemparkan pertanyaan-pertanyaan menyindir padaku. Ah sudahlah! Aku sudah lelah untuk memikirkan gosip murahan itu.
“Annisa, ikut ayah keluar yuk sayang” Pagi ini ayah mengetuk pintu kamar ku, kebetulan hari ini hari minggu. Aku pura-pura tak mendengarkannya, sudah hampir empat hari aku mendiam kan diri dan tak berbicara pada ayah. Semenjak gosip murahan itu beredar aku muak melihat muka ayah, Rasa benci seketika menyeruak ke dalam dada. Sehingga setiap pulang sekolah aku langsung masuk kamar membawa beberapa macam makanan dan keluar pagi hanya untuk pergi ke sekolah. Begitulah seterusnya.
“Annisa, Jangan begini nak. Keluar lah! Dengar kan ayah” Lagi-lagi ayah masih tetap tak beranjak dari tempatnya, depan pintu kamarku.
“Sayang, keluarlah nak. Ayah mau bicara. Jangan seperti ini ya sayang” Pujuk ayah tanpa bosan.
Aku luluh, meskipun rasa benci sudah merasuk ke dalam hati, Tapi rasa sayangku pada ayah melebihi rasa benciku. Begitu aku membuka pintu kamarku, ayah langsung memelukku seerat-eratnya. Tak ku pungkiri, aku sangat merindui sosok gagah yang sedang memelukku saat ini, Biasanya sebelum beranjak tidur ayah akan memelukku seperti ini dan mencium keningku sebagai ucapan selamat malam dari beliau yang tersayang, tapi sudah empat hari aku tak merasakannya. Sungguh aku merindukannya. Ayah!.
“Ayah. Annisa minta maaf ya karena mendiamkan ayah empat hari ini. Annisa sayang ayah” Kataku sambil terus membenamkan kepalaku dalam dekapan eratnya.
Ayah mengusap-usap kepalaku, dan mengangguk pelan.
Hari ini ayah mengajakku ke pantai, menikmati minggu bersama. Uhh senangnya. Sekilas semua cerita yang hampir merusak urat sarafku sirna. Ayah pun tak lagi menyinggung tentang pernikahan dan teman-teman wanitanya.
Tapi kesenangan itu sesaat, tak lama setelah aku bisa tertawa bermain bersama ayah, Seorang wanita yang pernah sempat aku kenali menghampiri. Ya,dia lah tante Widia yang belakangan menjadi bahan terpanas pembicaraan orang-orang di sekitarku. Dia di sini? Datang atas undangan dari ayah. Begitu special nya wanita ini untuk ayah, sampai-sampai ayah mengajaknya kesini. Entahlah, otak ku tiba-tiba berhenti berfikir, yang ada di benakku hanya kesal, kemarahan, dan kebencian yang mendalam. Hari ini benar-benar terasa menyakitkan buatku.
Pulang dari jalan-jalan dan mengantarkan tante Widia, ayah mengajakku berbicara. Aku hanya diam dan duduk di hadapan ayah tanpa sedikit pun memandang wajahnya.
"Annisa, ayah akan menikah” Itu lah yang ku dengar dari mulut ayah, hati dan pikiranku yang sedang kacau mendadak semakin tidak karuan, Air mata tak lagi dapat terbendung.
Aku tak mengerti mengapa ayah melakukan ini, ayah mau menikah lagi? Ayah tidak pernah berfikir tentang ibu, tidak berfikir tentang aku, tidak berfikir bagaiamana sakitnya aku. Hanya itu yang terfikirkan di benakku.
“Ayah sudah tidak menyayangi ibu lagi?” tanyaku lirih.
“Apa maksudmu Annisa? Tidak menyayangi ibu mu? Jelas ayah menyayangi ibumu, ayah sangat-sangat menyayangi ibumu sayang” Jawab ayah sambil memelukku yang masih tersedu dalam tangisku.
“Lalu mengapa ayah tidak mencari ibu? Bukankah dulu ayah bilang ibu pergi, Apa ibu tidak akan kembali ayah?”
“Kamu harus tahu satu hal nak, sekarang kamu sudah besar. Saat ini usiamu sudah 16 tahun, ayah rasa sudah saat nya kamu tahu semuanya” Kata ayah pelan. Aku lihat wajah ayah, wajah tegar itu kini terlihat sendu dengan bulir-bulir bening yang masih tertahan di pelupuk matanya.
“Sepuluh tahun yang lalu, saat itu usiamu baru 6 tahun, Ibumu pergi ke Aceh untuk menyusul ayah kandungmu yang bekerja di sana. Dan sebuah peristiwa tsunami 26 Desember 2004 terjadi, peristiwa malang itu menghilangkan ayah dan ibumu. Sampai detik ini tidak ada kabar tentang mereka, entah sudah hilang kembali pada Yang Kuasa atau masih hidup dan terdampar di sana. Ayah sangat-sangat menyayangi mereka seperti ayah menyayangimu sayang” Jelas ayah, kali ini bulir-bulir bening yang tertahan mengalir di wajahnya.
Ayah kandung? Ibu kandung? Lalu yang di hadapanku saat ini siapa? Siapa dia yang begitu menyayangiku seperti putri kandungnya? Banyak tanda tanya yang bermain di pikiranku.
Ayah memelukku erat, ku rasakan getar tubuhnya yang gementar menahan tangisnya.
“Lalu kenapa ayah mau menjagaku, menyayangiku, merawatku, memenuhi semua mauku kalau memang ayah bukan ayahku?” Tanyaku penuh rasa kebingungan.
“Hanya satu alasan mengapa ayah melakukan itu, karena ayah menyayangimu dan ibumu. Di dunia ini ayah cuma punya ibumu, ibumu satu-satunya keluarga ayah yang tersisa setelah kakek dan nenekmu meninggal, Tapi di saat ibumu pergi dan tak kembali, hanya kamu yang ayah miliki di dunia ini nak” jawab ayah lirih.
Entah bagaimana aku harus mengungkapkannya, perasaan benciku sejenak saja sirna, entah bagimana caranya aku harus bersikap di depan laki-laki yang ku percayai selama ini ayah kandungku, aku selalu memaks kehendakku sampai membatasi hak dan kwajibannya untuk menikah, Anak seperti apa aku yang begitu memaksa inginku pada dia yang rela menghabiskan waktunya hanya untuk membesarkan dan merawatku dengan penuh cinta.
“Maaf kan Anissa yah”
“Tidak ada yang salah denganmu nak, maaf ayah yang yang tidak menceritakan semuanya. Ayah hanya tidak ingin kamu terpukul karena ini sayang” Kata ayah lalu memeluk ku seerat-erat nya. Aku membenamkan kepalaku dalam pelukan kasihnya.
Kini aku tak lagi melarang pernikahan ayah, segudang gosip yang sempat memanas pun tak lagi menjadi sesuatu yang menyedihkan, Bahkan sedikit demi sedikit aku membersihkan nama ayahku, Satu-satunya pahlawan hidupku, yang mengorbankan separuh hidupnya untukku. Walaupun di luar sana banya yang mencemo’oh nya, tapi aku bangga memiliki ayah sepertinya.
***
Pernikahan ayah dan tante Widia berlangsung, Akhirnya gosip murahan itu berhenti dengan sendirinya, Kini aku ayah dan tante Widia (uppss Ibu baru, belum terbiasa) hidup bahagia sebagai satu keluarga,Tak seperti yang ku bayangkan dan yang sebagian mereka ceritakan bahwa Ibu tiri itu jahat, buktinya Ibu tiriku menyayangiku seperti menyayangi putrinya sendiri. Dan aku yang sudah lama tidak merasakan kasih seorang ibu sangat beruntung mendapatkan sosok ibu tiri seperti tante Widia. Ayah! Terimakasih atas pernikahanmu, aku bahagia saat melihat ayah bahagia, terimakasi telah menjadikan aku putri yang paling ayah cinta. Dimana pun Ayah dan Ibu kandungku berada, mereka pasti sangat bangga dan menyayangimu ayah. Sayang Ayah!
Terimaksih, mohon koreksi dan masukannya ya :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diary Comel

LAKI-LAKI TADI PAGI oleh : suriyati Bengkalis, 03 Desember 2015 Kulirik handphone, 07:06 WIB Berangkat dengan Selly Sisca MC mengendarai si Ijo kesayangan Misrah menuju Kantor Kementerian Agama Kab.Bengkalis yang jaraknya hanya 5 menit perjalanan dengan kecepatan rendah. Kunikmati perjalanan pagi di sepanjang jalan kelapapati darat ini dalam keheningan. Tak ada pembicaraan dan suara perbualan basa basi seperti biasanya. Aku tertegun, Bola mataku terpaut pada sebuah pemandangan yang sungguh indah. “Seorang laki-laki yang menakjubkan” Bathinku. Tiba-tiba saja aku teringat akan laki-laki terhebat dirumah yang saat ini tengah membanting tulang untuk isteri dan anak-anaknya, Ayah. Miss You. Ku simpan ayah dihati dengan doa yang senantiasa mengiringi. Lanjutkan dengan ketakjubanku pada sosok laki-laki yang kulihat pagi tadi. Kugambarkan sosoknya yang terlihat oleh mata. Dari wajahnya kutaksir usianya sekitar 28-35 tahun. Terlihat tampan dan gagah denga pakaian dinas. K...

CERPEN GLOBAL DIALOG

Kartini Menangis Oleh SURIYATI Kebebasan hak wanita, bukankah sudah diperjuangkan seorang pahlawan bernama Kartini?. Tapi kenapa masih ada saja perbudakan wanita di negara ini. Haruskah wanita menyalahkan Megawati Soekarno Putri. “Ahh entahlah aku tak mengerti tentang kebebasan wanita dinegara ini” gerutu Aisyah dalam hati. Dia terus melangkahkan kaki menuju kos-kosan, setelah menghabiskan 4 jam diruang kuliahnya. Langkahnya terhenti saat mendengar sebuah suara menyerukan namanya. Dia menoleh dengan cepat. “Siapa ya?” Tanya Aisyah seraya tersenyum karena merasa tidak mengenali sosok yang memanggilnya. Seorang gadis bertubuh sangat kurus tinggi, mengenakan gamis, kepalanya dibalut dengan pashmina ber warna senada baju yang digunakannya. “Aku Riana. Masih ingat? Teman sekelasmu saat SD!” Wanita dihadapan Aisyah mengulurkan tangannya, walaupun masih bingung Aisyah menyambut tangan itu dan mengenggamnya hangat. Matanya masih menatap Riana, dari ekspresinya terlihat sepertinya...

Diary Comel

RINDU,   INI BAPAK KU Pada sosoknya yang mulai menua, masih terlihat bias-bias ketampanan meski kerut wajahnya kian bertambah, badannya yang tegap kini mulai melemah, perutnya yang gendud mulai sedikit bergelambir. Meskipun begitu, di mataku dia tetap Pria tanggguh yang bijaksana, suami yang selalu berlemah lembut dengan isterinya, ayah terbaik yang selalu mendidik dan tidak pernah memarahi putra putrinya, kepala keluarga yang selalu tahu bagaimana menasehati dengan cara yang terbaik. Dialah bapakku. Raja yang tahtanya tidak pernah tergantikan dihatiku. I love u bapak :* Demi pendidikan dan masa depan,   kuhabiskan 6 tahunku tanpa makan malam bersama keluarga. Tiga tahun masa SMA, kuhabiskan waktuku dirumah paman, selanjutnya kujalani tiga tahunku di pulau perantauan. Tahu bagaimana rasanya rinduku? Entahlah, aku sendiri sulit menggambarkannya. Kuharap, waktu berjauhan ini segera berakhir, aku ingin kembali bersama mereka yang paling kucinta. Aku ingin kembali meras...