Langsung ke konten utama

Tunangan




Kriekkk..
Gubrakk…
Aaawwwww….
Sebatang dahan pohon mangga tepat dihalaman depan rumah Rhea berdebum jatuh ketanah, diiringi suara jeritan merintih yang lumayan panjang.
“Coba lihat, apa yang berisik didepan Rhe!” Mama yang sedang sibuk dengan majalahnya mengalihkan perhatian Rhea yang asyik menikmati sinetron kesayanganya.
“Paling juga dahan pohon mangga yang udah rapuh ma” Sahut Rhea, Meskipun setengah menggerutu dengan suruhan mama, dia melangkah ogah-ogahan menuju halamn depan rumahnya. Matanya terbelalak kaget begitu mendapati bukan dahan rapuh yang jatuh, malah dahan kokoh yang tergeletak disana. Dan yang membuat kekagetannya bertambah, seorang cowok tampak tertunduk dan meringis kesakitan disamping dahan sambil memegang tangannya yang berdarah.
“Rheo?” Rhea mendengus kesal begitu cowok yang ada dihadapannya mendongakan kepala.
“Rhea?” Tampaknya Rheo juga kaget melihat siapa yang sekarang ada dihadapannya.
“Ngapain loe dirumah gue? Jangan bilang loe mau nyuri mangga dan apesnya loe jatuh? Iya kan?” Tuding Rhea.
Wajah Rhea menunjukkan kekesalan yang teramat sangat, bukan dikarenakan Rheo tertangkap basah sedang mencoba mengambil mangga dan terjatuh seperti yang dituduhkannya, akan tetapi karena Rheo adalah senior dikampusnya yang selalu iseng ngejahilin Rhea. Walhasil berbagai macam perlakuan jahil Rheo sudah Rhea terima sejak ospek universitas. Dan yang paling malangnya ternyata Rheo satu jurusan dengannya, dan hampir tiap hari kelakuan jahil itu pasti ada hingga Rhea sekarang udah masuk ke semester 6.
“Sorry neng, gue sih niatnya ngambil mangga. Tapi gue nggak niat nyuri, soalnya gue udah diizinin sama tante Dhee buat ngambil mangga dirumahnya” Rheo menjawab tudingan yang di tujukan padanya, sambil mengusap darah yang mengalir ditangannya menggunakan sapu tangan yang selalu tersedia didalam saku celanananya.
“What? Mama gue ngizinin lo?” Rhea nggak percaya.
“Mamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…….”
Selang beberapa detik, mama berlarian dari dalam rumah. Wajahnya tampak panik mendengar teriakan Rhea.
“Ada apa Rhea teriak-teriak?”
“Ini ma, dia bilang mama udah ngizinin dia ngambil mangga. Padahal dia sengaja mau nyuri ma” Sunggut Rhea sambil menunjuk wajah Rheo.
Mama tersenyum. Rheo mengulurkan tangannya, dengan takzim menyalami mama Rhea.
“Assalamualaikum tante”
“Waalaikumussalam, nak Rheo nggak papa?”
“Nggak papa tante, Cuma luka kecil aja, bukan apa-apa buat cowok tan”
Rhea tak percaya menyaksikan percakapan penuh keakraban antara mama dan cowok yang selalu ngejahilinya.
“Rhe, kenalin ini Rheo” Kata mama mengalihkan ketidakpercayaan Rhea.
“Udah kenal” dengus Rhea kesal
“Wah jadi selama ini kalian udah saling kenal?”
“Mama udah lama mau ngenalin Rheo ke kamu, tapi kamu selalu sibuk seharian di kampus, di library, jadi ya nggak pernah ada kesempatan buat mama nemuin kalian berdua” Mama tersenyum sumringah.
Mengajak Rheo masuk ke rumah, Rhea masih tak percaya kedekatan antara keduanya. Bahkan dari tadi Rhea sibuk terdiam sambil menyaksikan senda gurau dan senyum sumringah yang menebar ruangan tamu rumahnya.
“Mama. Sejak kapan mama kenal dia? Kok bisa mama kenal sama dia? Dimana mama ketemu dia?” Rhea menghujani mamanya dengan banyak pertanyaan.
“Masa iya mama nggak kenal sama calon menantu sendiri” Jawab mama singkat, dan sukses bikin Rhea makin penasaran. Rheo tampak tersenyum sambil melirik Rhea jahil. Membuat rasa penasaran Rhea bercampur dengan kesal.
“Menantu?”
Rhea masih nggak habis pikir, siapa yang akan menikah dengan cowok berengsek kayak dia. Lama Rhea terdiam sambil berpikir. Rani? Nggak mungkin, kakak sulungnya itu baru aja nikah tahun lalu dan sekarang lagi mengandung anak pertamanya dan kehidupan rumah tangganya dengan mas Farid baik-baik aja. Atau Riko? Ah nggak mungkin, masa iya Rheo mau sama sibungsu Rhiko. Kan mereka sama-sama laki-laki. Kecuali dia… Hihihi.
Rhea tersenyum geli terpikirkan Rheo dengan Riko.
“Rhe, kok senyum-senyum sendiri?” Mama membuyarkan pikiran anehnya, Rhea menyembunyikan senyuman gelinya.
“Kamu udah tau?” Tanya mama lagi.
Rhea menggeleng.
“Ini tunangan kamu, namanya Rheo. Alhamdulillah kalau kalian udah saling kenal” Kata mama menjelaskan.
“Tunangan?”
Tunang Rhea ma?” Rhea sontak kaget.
“Ah.. mama bercanda” katanya masih tak percaya.
Dipandangnya mama dan Rheo bergantian. Dia masih tak percaya dengan apa yang didengarnya. Diliriknya sebuah cincin melingkar indah dijari manis tangannya. Dia menepuk jidat. Bagaimana bisa dia lupa bahwa satu bulan yang lalu dia menyetujui untuk menerima perjodohan antara dia dengan anak sahabat papanya. Dan diapun bersedia bertunangan meskipun belum pernah melihat calon suaminya tersebut, Rhea menyerahkan semua urusan bab-bab pernikahan sepenuhnya dengan mama dan papanya. Mama sempat memberikan foto, tapi sampai saat ini Rhea belum sempat melihatnya.
Rhea masih bertahan dengan kediamannya, bahkan mama beranjak kedapur pun dia tidak menyadarinya. Hingga sebuah kalimat menggugah Rhea dari lamunanya.
“Will you marry me?”
Rhea menatap Rheo, kali ini tidak ada lagi senyum penuh kejahilan. Senyum iseng itu kini berganti dengan tatapan kesungguhan. Rhea yang biasanya selalu galak setiap menghadap Rheo kini mencair. Kalimat will you marry me sudah meluluhkan keras hatinya. Benar-benar surpise. Bagaimana mungkin orang yang selama 3 tahun selalu menjahilinya, kini waktu 3 bulan yang akan datang akan menjadi suaminya. Rheo yang sejak awal sudah mengetahui siapa calon istrinya tersebut tersenyum sendiri menyaksikan keluluhan hati Rhea.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diary Comel

LAKI-LAKI TADI PAGI oleh : suriyati Bengkalis, 03 Desember 2015 Kulirik handphone, 07:06 WIB Berangkat dengan Selly Sisca MC mengendarai si Ijo kesayangan Misrah menuju Kantor Kementerian Agama Kab.Bengkalis yang jaraknya hanya 5 menit perjalanan dengan kecepatan rendah. Kunikmati perjalanan pagi di sepanjang jalan kelapapati darat ini dalam keheningan. Tak ada pembicaraan dan suara perbualan basa basi seperti biasanya. Aku tertegun, Bola mataku terpaut pada sebuah pemandangan yang sungguh indah. “Seorang laki-laki yang menakjubkan” Bathinku. Tiba-tiba saja aku teringat akan laki-laki terhebat dirumah yang saat ini tengah membanting tulang untuk isteri dan anak-anaknya, Ayah. Miss You. Ku simpan ayah dihati dengan doa yang senantiasa mengiringi. Lanjutkan dengan ketakjubanku pada sosok laki-laki yang kulihat pagi tadi. Kugambarkan sosoknya yang terlihat oleh mata. Dari wajahnya kutaksir usianya sekitar 28-35 tahun. Terlihat tampan dan gagah denga pakaian dinas. K...

CERPEN GLOBAL DIALOG

Kartini Menangis Oleh SURIYATI Kebebasan hak wanita, bukankah sudah diperjuangkan seorang pahlawan bernama Kartini?. Tapi kenapa masih ada saja perbudakan wanita di negara ini. Haruskah wanita menyalahkan Megawati Soekarno Putri. “Ahh entahlah aku tak mengerti tentang kebebasan wanita dinegara ini” gerutu Aisyah dalam hati. Dia terus melangkahkan kaki menuju kos-kosan, setelah menghabiskan 4 jam diruang kuliahnya. Langkahnya terhenti saat mendengar sebuah suara menyerukan namanya. Dia menoleh dengan cepat. “Siapa ya?” Tanya Aisyah seraya tersenyum karena merasa tidak mengenali sosok yang memanggilnya. Seorang gadis bertubuh sangat kurus tinggi, mengenakan gamis, kepalanya dibalut dengan pashmina ber warna senada baju yang digunakannya. “Aku Riana. Masih ingat? Teman sekelasmu saat SD!” Wanita dihadapan Aisyah mengulurkan tangannya, walaupun masih bingung Aisyah menyambut tangan itu dan mengenggamnya hangat. Matanya masih menatap Riana, dari ekspresinya terlihat sepertinya...

Diary Comel

RINDU,   INI BAPAK KU Pada sosoknya yang mulai menua, masih terlihat bias-bias ketampanan meski kerut wajahnya kian bertambah, badannya yang tegap kini mulai melemah, perutnya yang gendud mulai sedikit bergelambir. Meskipun begitu, di mataku dia tetap Pria tanggguh yang bijaksana, suami yang selalu berlemah lembut dengan isterinya, ayah terbaik yang selalu mendidik dan tidak pernah memarahi putra putrinya, kepala keluarga yang selalu tahu bagaimana menasehati dengan cara yang terbaik. Dialah bapakku. Raja yang tahtanya tidak pernah tergantikan dihatiku. I love u bapak :* Demi pendidikan dan masa depan,   kuhabiskan 6 tahunku tanpa makan malam bersama keluarga. Tiga tahun masa SMA, kuhabiskan waktuku dirumah paman, selanjutnya kujalani tiga tahunku di pulau perantauan. Tahu bagaimana rasanya rinduku? Entahlah, aku sendiri sulit menggambarkannya. Kuharap, waktu berjauhan ini segera berakhir, aku ingin kembali bersama mereka yang paling kucinta. Aku ingin kembali meras...