Rindu Tanpa Akhir
Bercerita tentang kerinduan, membuat aku tersenyum
getir. Ada kerinduan yang kusimpan rapi. Kerinduan itu untuk dua manusia yang
tak pernah ada persamannya dengan yang lain. Ayah dan Ibu. Iya, aku selalu
rindu dengan mereka. Bahkan saat aku bercerita tentang kerinduanku pada
keduanya, airmataku turut melengkapi kisah didalamnya.
Cukup membuatku mengerti arti perpisahan saat aku
harus merantau, ada tangis kepedihan saat harus melepaskan. Aku melihatnya, dan
aku pun merasakannya. Demi sebuah cita-cita, demi sebuah harapan aku rela
berjauhan. Sebenarnya jarak ini tidak terlalu jauh, hanya terpisah oleh lautan
yang bisa ku sebrangi dalam hitungan jam atau paling lama satu hari satu malam.
Tapi butuh satu tahun untuk aku baru kembali. Bukan apa-apa, hanya saja ingin
mengerti bagaimana rasanya menjadi mandiri.
Walaupun ini semua inginku dan demi masa depanku,
rindu ini tetap bagian dari ceritaku. Aku tersenyum sambil menangis saat
mendengar suara mereka, canda mereka, tawa mereka. Ahhh….. Aku rindu. Tapi
biarlah, kusimpan rindu ini di tulisanku, dikata-kataku, dimanapun aku berada. Akan ku lunaskan nanti
saat liburan, saat Allah mengizinkan aku untuk pulang kerumah J
Komentar
Posting Komentar