Langsung ke konten utama

Flash Fiction



AYAH, Lihat Rania

Rania menyusuri jalanan perumahannya, Semakin lama langkah kakinya semakin perlahan. Matanya mengawasi persekitaran. Kini dia berada 50 langkah dari pintu pagarnya, dia berhenti dan mematung.
Masuk atau tidak? Dua pilihan itu bermain dipikirannya.
***
Satu bulan yang lalu,
Dia memutuskan untuk keluar dari rumah, setelah ayah menasehatinya agar mengenakan jilbab.
 “Ayah itu kolot, nggak tahu apa-apa tentang fashion dan gaya. Lagipula Rania kan belum terlalu tua untuk menggunakan jilbab” Jawab Rania saat ayah menasehatinya.
“Iya nak, ayah tahu kamu menyukai fashion dan gaya, tapi tertutup jauh lebih cantik. Berjilbab juga bukan hanya untuk orang tua. Ibu juga sudah mengenakan jilbab sejak seusia Rania” kata Ayah bijak.
“Ah.. ayah emang kampungan, Ini mah gaya anak sekarang yah. Lagipula jamannya ibu dan Rania kan berbeda” Bantah Rania kasar.
“Jaman kamu dan ibu memang berbeda nak, tapi isi Al-Qur’an masih tetap sama, isi perintahnya juga masih tetap sama” Nasihat ayah masih tetap dengan kebijaksanaan yang sama. Tidak ada sedikitpun kekasaran yang ayah tunjukan. Tapi dasar Rania yang keras kepala, setelah berdebat panjang dengan ayah, dia akhirnya memutuskan untuk pergi dan tak pulang.
***
Rania melangkah semakin dekat. Kebingungan mulai menjalar dikepalanya. Didepan perkarangan rumahnya ramai sekali orang hilir mudik kesana kemari, ada yang datang dan pergi, tampak bendera kuning tertancap tepat didepan pintu rumahnya.
Rasa penasaran dan kebingungan memacunya melangkah lebih cepat, menyerobot kerumunan orang-orang dan memasuki ruangan rumahnya. Begitu sampai didepan ruang keluarga langkahnya segera terhenti, matanya terpaku pada sesosok yang ditutupi kain batik panjang.
Rania merasa seperti kehilangan pegangan, kakinya mendadak lemah, kepalanya berkunang-kunang dan rangga dadanya terasa terhimpit. Dalam sekejap dia roboh tersungukur, tangannya yang lemah menyibak kain penutup. Sesosok yang paling dicintainya terbujur kaku disana. Isak tangisnya pecah, raungannya memenuhi ruangan.
“Ayah.. Rania pulang yah.. Rania udah pake jilbab seperti yang ayah mau. Ayah, ayo bangun yah. Lihat Rania! Rania cantikkan yah? Rania mau ayah lihat Rania, Pliss bangun yah.. ! Ayah... Bangunnnnnn.....”
***
“Untuk Rania Putri ayah tersayang”
Assalamualaikum nak...
Jangan menangis sayang.
Ayah tahu kamu baik-baik saja, ayah selalu mendoakan yang terbaik untuk putri tercantik ayah. 
Seminggu yang lalu, Kamu terlihat cantik dengan balutan jilbab pertamamu. biru muda! Warna itu teramat sangat indah saat putri ayah yang menggunakan.
Ayah bangga padamu Rania.
Tetaplah istiqomah nak.
Untuk pengetahuan Rania, ayah selalu memantau dimanapun putri ayah berada. Bahkan Ayah berada dimasjid yang sama saat Rania mengikuti muhasabah diri untuk pertama kalinya. Ayah bangga saat kamu menyatakan diri ingin berubah dan terisak disana. Ayah bahagia saat mendapatimu berjilbab untuk pertama kalinya. Ayah sudah memaafkanmu, dan mengampunimu. Jadilah yang tercantik seperti Ibu. Tetaplah istiqomah, ayah akan selalu menemanimu.
Dari yang selalu mencintai dan menyayangimu
AYAH






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diary Comel

LAKI-LAKI TADI PAGI oleh : suriyati Bengkalis, 03 Desember 2015 Kulirik handphone, 07:06 WIB Berangkat dengan Selly Sisca MC mengendarai si Ijo kesayangan Misrah menuju Kantor Kementerian Agama Kab.Bengkalis yang jaraknya hanya 5 menit perjalanan dengan kecepatan rendah. Kunikmati perjalanan pagi di sepanjang jalan kelapapati darat ini dalam keheningan. Tak ada pembicaraan dan suara perbualan basa basi seperti biasanya. Aku tertegun, Bola mataku terpaut pada sebuah pemandangan yang sungguh indah. “Seorang laki-laki yang menakjubkan” Bathinku. Tiba-tiba saja aku teringat akan laki-laki terhebat dirumah yang saat ini tengah membanting tulang untuk isteri dan anak-anaknya, Ayah. Miss You. Ku simpan ayah dihati dengan doa yang senantiasa mengiringi. Lanjutkan dengan ketakjubanku pada sosok laki-laki yang kulihat pagi tadi. Kugambarkan sosoknya yang terlihat oleh mata. Dari wajahnya kutaksir usianya sekitar 28-35 tahun. Terlihat tampan dan gagah denga pakaian dinas. K...

CERPEN GLOBAL DIALOG

Kartini Menangis Oleh SURIYATI Kebebasan hak wanita, bukankah sudah diperjuangkan seorang pahlawan bernama Kartini?. Tapi kenapa masih ada saja perbudakan wanita di negara ini. Haruskah wanita menyalahkan Megawati Soekarno Putri. “Ahh entahlah aku tak mengerti tentang kebebasan wanita dinegara ini” gerutu Aisyah dalam hati. Dia terus melangkahkan kaki menuju kos-kosan, setelah menghabiskan 4 jam diruang kuliahnya. Langkahnya terhenti saat mendengar sebuah suara menyerukan namanya. Dia menoleh dengan cepat. “Siapa ya?” Tanya Aisyah seraya tersenyum karena merasa tidak mengenali sosok yang memanggilnya. Seorang gadis bertubuh sangat kurus tinggi, mengenakan gamis, kepalanya dibalut dengan pashmina ber warna senada baju yang digunakannya. “Aku Riana. Masih ingat? Teman sekelasmu saat SD!” Wanita dihadapan Aisyah mengulurkan tangannya, walaupun masih bingung Aisyah menyambut tangan itu dan mengenggamnya hangat. Matanya masih menatap Riana, dari ekspresinya terlihat sepertinya...

Diary Comel

RINDU,   INI BAPAK KU Pada sosoknya yang mulai menua, masih terlihat bias-bias ketampanan meski kerut wajahnya kian bertambah, badannya yang tegap kini mulai melemah, perutnya yang gendud mulai sedikit bergelambir. Meskipun begitu, di mataku dia tetap Pria tanggguh yang bijaksana, suami yang selalu berlemah lembut dengan isterinya, ayah terbaik yang selalu mendidik dan tidak pernah memarahi putra putrinya, kepala keluarga yang selalu tahu bagaimana menasehati dengan cara yang terbaik. Dialah bapakku. Raja yang tahtanya tidak pernah tergantikan dihatiku. I love u bapak :* Demi pendidikan dan masa depan,   kuhabiskan 6 tahunku tanpa makan malam bersama keluarga. Tiga tahun masa SMA, kuhabiskan waktuku dirumah paman, selanjutnya kujalani tiga tahunku di pulau perantauan. Tahu bagaimana rasanya rinduku? Entahlah, aku sendiri sulit menggambarkannya. Kuharap, waktu berjauhan ini segera berakhir, aku ingin kembali bersama mereka yang paling kucinta. Aku ingin kembali meras...