Langsung ke konten utama

Cerpen

Blogpost ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Tertib, Aman dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan” #Safetyfirst yang diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Honda dan Nulisbuku.com

NAMA KEMATIAN DIATAS JALAN
Oleh: SURIYATI

“Bun, Riyad pergi dulu ya. Assalamualaikum”. Pamit Riyad pada bunda sambil mencium tangan bunda takzim.
“Iya sayang, hati-hati ya nak. Jangan kebut-kebutan!” Pesan bunda sambil mengusap kepala putra semata wayangnya. Riyad hanya membalas kata-kata bunda dengan senyuman dan anggukan kepala.
“Daaa.. bunda” Riyad melambaikan tangannya. Setelah motor Riyad keluar dari pagar rumah, bunda baru tersadar putranya tersebut tidak menggunakan helm. Bunda berteriak-teriak, tapi apalah daya suara bunda yang tak seberapa hilang tertelan desingan motor Riyad. Bunda menggeleng melihat putranya yang tidak pernah mau untuk mengenakan helm ketika ke sekolah. Setiap kali diingatkan agar menggunakan helm, Siswa kelas 2 SMK itu hanya tersenyum dan menjawab “Sekolah Riyad kan deket bunda”.
Bunda tak pernah memaksa anaknya, sehingga setiap kali Riyad menolak menggunakan helm, bunda selalu menasihatinya tentang pentingnya menggunakan pelindung kepala yang satu itu. Hanya sesekali nasihat bunda nyangkut dan Riyad menggunakannya.
Pernah suatu hari, sekitar satu tahun yang lalu. Riyad benar-benar tidak mau menggunaan helm padahal bunda sudah menasihatinya berkali-kali. Sepulang sekolah tanpa di duga ada razia zebra di persimpangan jalan yang tak jauh dari rumahnya. Walhasil, jika Riyad tetap bersikukuh untuk lewat, sudah pasti motornya ditilang. Akhirnya Riyad berinisiatif untuk pulang, dia menitipkan motornya disebuah warung yang tak jauh dari simpang. Hampir satu jam Riyad berjalan kaki bolak-balik warung-rumah hanya demi menjemput helm. Bunda sempat marah-marah mengkhawatirkannya, tapi dasar Riyad bandel, dia tetap mengulangi perbuatanya hingga kini.
Tidak hanya itu pengalamannya tentang helm, Riyad bahkan pernah menyembunyikan sepeda motornya di semak-semak. Saat itu dia melintas disebuah kawasan sunyi yang selalu dijadikan arena balap liar oleh anak-anak seusianya. Riyad tidak bermaksud untuk ikut-ikutan, dia hanya melewati jalan tersebut untuk menuju rumah temannya. Tapi apesnya, saat itu sedang ada razia pembalap liar. Suara sirine mobil polisi membuat suasana jalanan ricuh, para pembalap liar memacu motor mereka secepat mungkin sementara Riyad tetap santai, hingga sebuah teriakan membuatnya kelabakan.
“Woi bung, helm lu mana? Kalau kagak mau ketangkep sembunyi sono. Polisi sini kagak bisa pake duit, urusannya ribet”.
Spontan saja Riyad klabakan, dia menoleh kebelakang. Mobil polisi sudah semakin dekat, Jika dia teruskan kemungkinan besar akan terkejar. Riyad memutuskan memasuki sebuah gang kecil, dia menyembunyikan motornya dibalik rumput-rumput liar.
“Hei, ngapain kamu disini”. Seseorang menepuk pundaknya, Riyad terperanjat penuh ketakutan.
“Ampun pak, ampun! Saya nggak ikutan”. Seru Riyad spontan.
“Siapa nama kamu?”. Sentak pemilik suara dibelakangnya, Riyad semakin ketakutan. Dengan tertunduk membalikan badan.
“Riyad, ngapain disini?” .
Riyad mengangkat wajahnya begitu orang tersebut menyebut namanya dan melihat sosok orang yang tadi menyentaknya.
“Om Wisnu”. Seru Riyad mengelus dada.
Om Wisnu adalah adik kandung bunda yang bekerja sebagai Satpol PP. Setelah menjelaskan panjang lebar apa yang terjadi, Om Wisnu membantu  Riyad mengangkat motor yang sudah dikuburnya dibalik rerumputan liar. Sedikit malu dengan kebodohanya yang dibodoh-bodohi oleh orang yang tak dikenalnya kini menjadi cerita paling menarik saat keluarga besarnya sedang berkumpul.
“Makanya, kalau kemana-mana gunakan helm. Jadi tidak perlu cemas dan nggak lagi jadi bahan olokan orang. Lagian helm juga jaminan keselamatan kalau kamu mengalami kecelakaan kecil” Pesan Om Wisnu.
“Hehe.. Iya om”. Riyad mengangguk dan cengengesan setiap kali nasihat yang sama terdengar.
                                                                  *** 
Kringgg.. Kringggg...                                    
Suara telpon diruang tengah berdering, bunda yang sedang memasak didapur berlari menjawabnya.
“Hallo selamat siang, benar ini dengan rumah keluarga Riyadi Surya?” Terdengar suara dari seberang.
“Iya, saya sendiri ibunya. Ini dengan siapa?” Jawab bunda
“Maaf sebelumnya, benar anak ibu bernama Riyadi  Surya dan saat ini bersekolah di SMK Taruna?” Suara diseberang kembali menanyakan pertanyaan yang lebih kurang sama.
“Iya, benar” Bunda menjawabnya hati-hati.
“Saya dari Kantor polisi sektor...”
Bunda teduduk lesu, lidahnya kelu, airmatanya mengalir deras. Ganggang telpon masih tergeletak dilantai. Salah satu polisi mengabarkan bahwa seorang anak sekolah yang diduga kuat adalah Riyad mengalami kecelakaan motor dan saat ini sedang kritis di salah satu rumah sakit. Menurut kabar yang bunda dapatkan, Pengendara na’as tersebut  mengalami kebocoran dibagian kepala karena benturan keras dengan aspal jalanan. Bunda luruh menatap helm Riyad yang masih tersandar ditempatnya. Pikiran bunda yang berkecamuk mulai berandai-andai.
Ayah yang baru saja dikabari bunda sudah pulang dari kantor, saat bunda terisak-isak.
“Riyad, mas! Riyad...” Seru bunda dalam isak tangisnya.
Ayah memeluk bunda erat. Mencoba menenangkan isterinya. Ayah mencoba tegar, walaupun gemuruh duka dihatinya juga teramat besar.
“Sabar bun, Kita kan belum memastikannya” Ayah mencoba menenangkan bunda.
“Andai saja aku menyuruhnya menggunakan helm mas, andai saja..” Bunda menangis sambil menunjuk kearah helm Riyad yang terpajang ditempatnya.
“Tidak apa-apa, yang sudah terjadi tak perlu kita sesali bun. Ayo kerumah sakit. Kita pastikan itu Riyad atau bukan” Ayah memipin bunda yang lemah terkulai.
***
Rumah Sakit
“Keluarga Riyad Surya?” Tanya seorang perawat, dijawab dengan anggukan kepala ayah.
“Dokter menunggu didalam, silahkan!”
Ayah dan ibu mengikuti perawat yang mengantarkannya. Kaki bunda terasa kaku saat memasuki ruang ICU. Tubuh bunda terasa lemas, saat melihat sekujur tubuh telah kaku diselimuti kain panjang dari hujung kepala hingga hujung kaki.
“Maaf pak buk, kami sudah berusaha sebaik mungkin. Saya harap bapak dan ibu bersabar” Seketika, tangis bunda pecah mengudara. Ayah yang sedari tadi tampak tegar, kini duduk tersimpuh di lantai. Airmata ayah yang jarang sekali keluar, kini menitis sebutir demi sebutir membasahi pipinya.
Ayah mengumpulkan kekuatan, kembali pada ketegarannya. Memimpin bunda menghampiri jasad yang sudah tidak lagi bernyawa. Mebuka kain yang menutupinya dan bunda berseru “Astagfirullahhal adzim”.
Jasad dihadapanya sudah babak belur, wajahnya sudah tak lagi berbentuk wajah. Darah mengalir segar dari kepala, telinga, hidung. Belum lagi bentuk bibirnya yang sudah miring kekiri. Yang pasti jasad dihadapan ayah dan bunda sudah tidak lagi wajah yang bisa dikenali. Bunda semakin lunglai, hingga pada akhirnya jatuh pingsan.
***
“Bunda.. Bunda... Bundaaa”
“Bundaa... Bundaa... Bundaa”
Bunda membuka matanya yang terasa berat, kepalanya masih terasa sakit. Dia mencari-cari arah suara yang memanggilnya. Ya, bunda teramat kenal dengan suara itu.
“Riyad?” Bunda setengah tak percaya, di rabanya wajah Riyad mulai dari kepala, telinga, rambut.
“Ini kamu, Riyad?” Tanya bunda sedikit sumringah
“Iya bunda. Ini Riyad!” Kali ini Riyad langsung memeluk bundanya. Airmata meleleh dari keduanya.
“Lalu...?”
Bunda belum menyelesaikan kalimatnya, langsung dipotong oleh Riyad. “Yang didalam itu teman kelas Riyad bun, Namanya Kido”
“Tapi, kata polisi kartu identitas kamu sama dia”
“Iya bun, sebenarnya semalam dompet Riyad ketinggalan di sekolah. Jadi Riyad minta tolong sama almarhum Kido untuk nyimpan dulu. Maaf ya bun, Riyad udah bikin bunda khawatir”
Bunda menatap putra semata wayangnya itu lekat, airmatanya dibiarkannya terus mengalir.
***
Pagi ini, berita di televisi dan koran-koran sibuk memberitakan tentang kecelakaan yang dialami almarhum Kido. Berdasarkan informasi saksi mata yang berada dilokasi kejadian, Riyad memacu kendaraannya dengan kecepatan yang sangat tinggi, bahkan kido mengabaikan tentang kecepatan yang boleh dipacunya saat berada dizona selamat sekolah. Tepat didepan sebuah sekolah, Kido tak dapat mengendalikan motornya. Dia hampir menabrak seorang bocah sekolah, tapi dia berhasil menghindarinya. Tapi naas, motornya oleng dan menabrak tembok pagar sekolah. Tubuhnya terpelanting ke jalan, kepalanya yang tidak menggunakan terbentur aspal jalanan. Dan sebuah motor yang juga oleng menabrak tubuhnya yang sudah tergeletak dijalan hingga terpelanting kembali.
“Ayah.. Bunda, Riyad berangkat” Riyad pamitan, mengecup kedua tangan orang tuanya dengan takzim.
“Iya, hati-hati”. Pesan bunda. Seperti biasanya bunda akan mengantarkan Riyad hingga depan pintu rumah. Kali ini bunda langsung menyambar helm Riyad dari pajangannya.
“ Nih.. Jangan lupa!” Bunda menyodorkanya kepada Riyad.
“Makasih bunda”. Kali ini Riyad tak menolak, dia sudah bertekad untuk tidak membuat bunda khawatir lagi.
“Iya sayang. Jangan lupa berdoa. Perhatikan kanan-kiri, jangan kebut-kebutan. Ingat! Malang tak berbau. Jangan sampai mengukir nama kematian diatas jalan”. Pesan bunda.
“Oke bunda, Riyad pergi. Assalamualaikum”. Riyad mengacungkan jempolnya.
Suara desingan motornya mulai menjauh dari rumah. Diperjalanan Riyad mengeluarkan handphone dan memasang earphone. Niat hati menikmati perjalanan sambil mendengarkan lagu. Saking asyiknya lagu yang dinikmatinya, Riyad lalai. Dia menabrak sebuah pick-up yang terparkir dipinggir jalan tak jauh dari sekolahnya.
Putih! Semuanya serba putih.
Riyad melihat kesekeliling. Tubuhnya terbaring lemas. Sekujur tubuhnya terasa sakit. Tanganya terhubung dengan selang infus. Kaki dan tangan kirinya terasa nyilu saat dia bergerak.
“Bundaaaaaaaaaaaaa. Riyad nggak mau jatuh lagi. Nggak mau ada nama Riyad diatas jalan lagi bun”. Teriak Riyad dalam isaknya.
*** 
Semenjak kejadian hari itu, Riyad benar-benar berubah. Dia selalu menuruti apa kata bunda. Tidak pernah melanggar aturan dalam berkendara. Riyad senantiasa berhati-hati dan memperhatikan kelengkapan berkendaranya sebelum berpergian. Tidak ada lagi telfon selama perjalanan, jika memang mendesak Riyad akan berhenti terlebih dahulu untuk menelfon. Kini bahkan Riyad menjadi salah satu pelopor seminar “Tertib, Aman dan Selamat Berkendara Sepeda Motor bagi Remaja Muda” di sekolahnya.









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diary Comel

LAKI-LAKI TADI PAGI oleh : suriyati Bengkalis, 03 Desember 2015 Kulirik handphone, 07:06 WIB Berangkat dengan Selly Sisca MC mengendarai si Ijo kesayangan Misrah menuju Kantor Kementerian Agama Kab.Bengkalis yang jaraknya hanya 5 menit perjalanan dengan kecepatan rendah. Kunikmati perjalanan pagi di sepanjang jalan kelapapati darat ini dalam keheningan. Tak ada pembicaraan dan suara perbualan basa basi seperti biasanya. Aku tertegun, Bola mataku terpaut pada sebuah pemandangan yang sungguh indah. “Seorang laki-laki yang menakjubkan” Bathinku. Tiba-tiba saja aku teringat akan laki-laki terhebat dirumah yang saat ini tengah membanting tulang untuk isteri dan anak-anaknya, Ayah. Miss You. Ku simpan ayah dihati dengan doa yang senantiasa mengiringi. Lanjutkan dengan ketakjubanku pada sosok laki-laki yang kulihat pagi tadi. Kugambarkan sosoknya yang terlihat oleh mata. Dari wajahnya kutaksir usianya sekitar 28-35 tahun. Terlihat tampan dan gagah denga pakaian dinas. K...

CERPEN GLOBAL DIALOG

Kartini Menangis Oleh SURIYATI Kebebasan hak wanita, bukankah sudah diperjuangkan seorang pahlawan bernama Kartini?. Tapi kenapa masih ada saja perbudakan wanita di negara ini. Haruskah wanita menyalahkan Megawati Soekarno Putri. “Ahh entahlah aku tak mengerti tentang kebebasan wanita dinegara ini” gerutu Aisyah dalam hati. Dia terus melangkahkan kaki menuju kos-kosan, setelah menghabiskan 4 jam diruang kuliahnya. Langkahnya terhenti saat mendengar sebuah suara menyerukan namanya. Dia menoleh dengan cepat. “Siapa ya?” Tanya Aisyah seraya tersenyum karena merasa tidak mengenali sosok yang memanggilnya. Seorang gadis bertubuh sangat kurus tinggi, mengenakan gamis, kepalanya dibalut dengan pashmina ber warna senada baju yang digunakannya. “Aku Riana. Masih ingat? Teman sekelasmu saat SD!” Wanita dihadapan Aisyah mengulurkan tangannya, walaupun masih bingung Aisyah menyambut tangan itu dan mengenggamnya hangat. Matanya masih menatap Riana, dari ekspresinya terlihat sepertinya...

Diary Comel

RINDU,   INI BAPAK KU Pada sosoknya yang mulai menua, masih terlihat bias-bias ketampanan meski kerut wajahnya kian bertambah, badannya yang tegap kini mulai melemah, perutnya yang gendud mulai sedikit bergelambir. Meskipun begitu, di mataku dia tetap Pria tanggguh yang bijaksana, suami yang selalu berlemah lembut dengan isterinya, ayah terbaik yang selalu mendidik dan tidak pernah memarahi putra putrinya, kepala keluarga yang selalu tahu bagaimana menasehati dengan cara yang terbaik. Dialah bapakku. Raja yang tahtanya tidak pernah tergantikan dihatiku. I love u bapak :* Demi pendidikan dan masa depan,   kuhabiskan 6 tahunku tanpa makan malam bersama keluarga. Tiga tahun masa SMA, kuhabiskan waktuku dirumah paman, selanjutnya kujalani tiga tahunku di pulau perantauan. Tahu bagaimana rasanya rinduku? Entahlah, aku sendiri sulit menggambarkannya. Kuharap, waktu berjauhan ini segera berakhir, aku ingin kembali bersama mereka yang paling kucinta. Aku ingin kembali meras...