Langsung ke konten utama

C E R P E N

Cincin Tak Bertuan

Kau berjanji padaku, kau akan kembali dan kita akan menikah.
Kau masih ingat bukan, saat dimana kau dengan beraninya mendatangi orang tuaku membawa serta rombongan untuk meminang. Waktu itu aku terkejut bukan kepalang, tak terduga. Dan kau bukanlah orang yang aku kenal.
“Sudikah kamu menjadi isterinya?” Itulah yang bundamu katakan saat menemuiku dikamar pada hari pertunangan kita. Tak mungkin kujawab tidak, acara sudah terselenggara. Aku hanya tersenyum kecil. Mereka yang menyaksikan saat itu mengambil kesimpulan singkat, ketika seorang wanita dilamar, lalu tersenyum malu pertanda bahwa dirinya setuju. Ahhh Hipotesa yang primitif.
***
Cincin terlingkar dijariku, aku masih tak percaya, kesal pun masih ada. Bagaimana tidak, Selama ini aku hidup tanpa memikirkan cinta itu seperti apa. Semua waktu kuhabiskan untuk belajar dan belajar, hingga aku mendapatkan gelar study kedokteranku tiga bulan yang lalu tepat diusiaku yang ke 21. Dan sekarang aku mendapati diriku adalah calon isteri seseorang yang sama sekali tak ku kenal.
Ahh.. Kalau saja bukan karena kenekatanmu menemui papa.
Aku sudah mendengar kisahnya, mereka bilang kau jatuh cinta dengan ku saat pandangan
pertama. Waktu itu aku sibuk mengerjakan skripsi dan menghabiskan hariku dipustaka, rupanya kau penghuni setia disana. Kau selalu datang setiap harinya hanya untuk memperhatikan aku dari kejauhan. Katanya kau sudah mendengar tentang aku yang tak meladeni laki-laki, jadi kau memutuskan untuk mengakrabkan diri dengan orang tuaku. Entah darimana kau dapat tahu semua informasi tentangku, hingga nekat seperti itu. Tapi rupanya mama dan papa benar-benar menyambut kedatanganmu. Aku tidak tahu apa yang menarik darimu. Kata mereka kau sempurna, seorang yang sholeh, patuh dengan orang tua, lemah lembut, berkarisma, dan profesimu adalah dokter sebuah rumah sakit spesialis di Jerman. Walaupun  begitu aku masih tak bisa menerimanya.
Jeda antara pertunangan dan pernikahan kita 5 bulan. Dan sebulan setelah cincin itu tersemat dijariku, kau datang menemuiku. Ditemani mama dan papa, pertama kalinya aku melihatmu secara langsung. Kau tampan, aku mengakuinya. Pada saat itu aku terpesona, dan aku tak menyangkalnya. Rasa kesalku menerima pinanganmu mulai mencair. Bukan! Aku mencair bukan hanya karena ketampanan yang mempesona, tapi aku juga dibuat kagum dengan caramu berbicara, berisikan kesantunan dan mencerminkan kemuliaan akhlak seorang pria idaman semua wanita.
“Aku akan pergi” Katamu saat kunjungan kedua, seminggu setelah kunjungan pertama.
“Kemana?” tanyaku sambil tertunduk, aku tak berani menatap wajahmu. Aku takut larut dalam ketampananmu yang mempesona, hingga hatiku jatuh ke lembah terendah didunia. Zina. Tidak! Aku tidak ingin, aku tetap menjagannya.
Jerman
“Untuk apa? Bukankah 4 bulan lagi kita akan menikah” Kataku, ada kekhawatiran yang tiba-tiba menyeruak. Kudengar kau tertawa kecil, kupastikan saat itu kau sedang tersenyum-senyum memandangku, dan dugaanku tepat. Saat aku curi-curi pandang, aku masih mendapati kau melakukan itu.
“Aku tidak lama, ada beberapa hal yang perlu ku urus disana. Segera setelah selesai aku akan kembali”
“Tidak bisa tunda?” tanyaku lagi. Entah kenapa dalam hatiku, terbesit kata jangan pergi. Hanya saja kata itu tak terucap oleh mulutku.
“Tenanglah, aku hanya sebentar. Setelah semuanya selesai aku akan kembali. Kita akan menikah dan hidup bahagia disini” Katamu lembut.
“Disini? Bagaimana dengan pekerjaanmu?”
“Aku kesana untuk mengurusnya, dan aku akan pindah disini. Menikah denganmu, membangun keluarga dan hidup bahagia. Jangan khwatirkan aku, jaga saja dirimu. Pastikan kamu baik-baik saja selama kepergianku, dan jadilah bidadari bumi tercantik dipersandingan kita nanti” Jawabmu
***
Ini harinya.
Hari dimana kau telah setuju untuk mengambil aku menjadi bidadari tercantik yang akan bersanding bersamamu. Sejak pagi tadi aku sudah tidak sabar menantikanmu datang bersama rombongan. Tidak lagi untuk ta’arufan, tapi untuk sebuah acara sakral sebuah ikatan pernikahan.
Beberapa kali aku bolak-balik menghadap cermin. Aku khawatir jika tidak terlihat cantik. Entah kenapa, tiba-tiba saja aku ingin terlihat cantik didepanmu. Apa yang telah kau lakukan, membuatku merasa tidak karuan. Debar jantungku tak seirama seperti biasanya. Apa yang salah?
Ah.. Kebimbangan ini berakhir. Rombongan sudah hampir diperkarangan. Dari balik jendela kamar aku mengintip sedikit. Senyumku mengambang senang, tapi sedetik kemudian terbang melayang bersama kericuhan yang mulai mengudara.
Aku segera membuka televisi, semua siaran menyiarkan tentang hilangnya pesawat tanpa jejak. Lututku melemah, tubuhku terbanting ke lantai duduk bersimpuh bersama tangis yang pilu.
Benarkah yang kudengar? Benarkah kau yang diberitakan disana?
Beribu tanya bermain dikepala. Dadaku sesak oleh tangis yang tak tertahan.
Tanpa sadar jatuh pingsan, sadar, pingsan kembali.
***
Sudah tiga bulan sejak berita mengudara di media tapi aku masih tetap sama dan tetap menunggu. Kamu dimana, aku disini sedang menunggumu. Bukankah kau ingin membangun sebuah keluarga yang bahagia bersamaku?
Dari hati yang tak pernah lelah menanti cinta hingga ijab qabul terselenggara.
Aku ikhlas dengan takdir Yang Maha Kuasa.


Komentar

  1. Ceritanya bagus Sur, kata2nya juga keren. Suriyatu udah pernah kirim cerpen ke media seperti koran/tabloid belum?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hhe, masih belajar pak
      dulu SMA pernah pak sekali, udah gitu vakum nulis, nih baru mau mulai lagi..

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diary Comel

LAKI-LAKI TADI PAGI oleh : suriyati Bengkalis, 03 Desember 2015 Kulirik handphone, 07:06 WIB Berangkat dengan Selly Sisca MC mengendarai si Ijo kesayangan Misrah menuju Kantor Kementerian Agama Kab.Bengkalis yang jaraknya hanya 5 menit perjalanan dengan kecepatan rendah. Kunikmati perjalanan pagi di sepanjang jalan kelapapati darat ini dalam keheningan. Tak ada pembicaraan dan suara perbualan basa basi seperti biasanya. Aku tertegun, Bola mataku terpaut pada sebuah pemandangan yang sungguh indah. “Seorang laki-laki yang menakjubkan” Bathinku. Tiba-tiba saja aku teringat akan laki-laki terhebat dirumah yang saat ini tengah membanting tulang untuk isteri dan anak-anaknya, Ayah. Miss You. Ku simpan ayah dihati dengan doa yang senantiasa mengiringi. Lanjutkan dengan ketakjubanku pada sosok laki-laki yang kulihat pagi tadi. Kugambarkan sosoknya yang terlihat oleh mata. Dari wajahnya kutaksir usianya sekitar 28-35 tahun. Terlihat tampan dan gagah denga pakaian dinas. K...

CERPEN GLOBAL DIALOG

Kartini Menangis Oleh SURIYATI Kebebasan hak wanita, bukankah sudah diperjuangkan seorang pahlawan bernama Kartini?. Tapi kenapa masih ada saja perbudakan wanita di negara ini. Haruskah wanita menyalahkan Megawati Soekarno Putri. “Ahh entahlah aku tak mengerti tentang kebebasan wanita dinegara ini” gerutu Aisyah dalam hati. Dia terus melangkahkan kaki menuju kos-kosan, setelah menghabiskan 4 jam diruang kuliahnya. Langkahnya terhenti saat mendengar sebuah suara menyerukan namanya. Dia menoleh dengan cepat. “Siapa ya?” Tanya Aisyah seraya tersenyum karena merasa tidak mengenali sosok yang memanggilnya. Seorang gadis bertubuh sangat kurus tinggi, mengenakan gamis, kepalanya dibalut dengan pashmina ber warna senada baju yang digunakannya. “Aku Riana. Masih ingat? Teman sekelasmu saat SD!” Wanita dihadapan Aisyah mengulurkan tangannya, walaupun masih bingung Aisyah menyambut tangan itu dan mengenggamnya hangat. Matanya masih menatap Riana, dari ekspresinya terlihat sepertinya...

Diary Comel

RINDU,   INI BAPAK KU Pada sosoknya yang mulai menua, masih terlihat bias-bias ketampanan meski kerut wajahnya kian bertambah, badannya yang tegap kini mulai melemah, perutnya yang gendud mulai sedikit bergelambir. Meskipun begitu, di mataku dia tetap Pria tanggguh yang bijaksana, suami yang selalu berlemah lembut dengan isterinya, ayah terbaik yang selalu mendidik dan tidak pernah memarahi putra putrinya, kepala keluarga yang selalu tahu bagaimana menasehati dengan cara yang terbaik. Dialah bapakku. Raja yang tahtanya tidak pernah tergantikan dihatiku. I love u bapak :* Demi pendidikan dan masa depan,   kuhabiskan 6 tahunku tanpa makan malam bersama keluarga. Tiga tahun masa SMA, kuhabiskan waktuku dirumah paman, selanjutnya kujalani tiga tahunku di pulau perantauan. Tahu bagaimana rasanya rinduku? Entahlah, aku sendiri sulit menggambarkannya. Kuharap, waktu berjauhan ini segera berakhir, aku ingin kembali bersama mereka yang paling kucinta. Aku ingin kembali meras...