CINCIN TAK BERTUAN
Part 2
“Kamu pasti bertanya-tanya, bagaimana bisa aku
senekad itu memberanikan diri menemui orang tuamu untuk memintamu menjadi
isteriku. Benarkah?”
Aku
mengangguk dan tersenyum, bagaimana bisa kau mengetahui isi kepalaku. Walaupun
aku sudah mendengar cerita tentang dirimu yang menjadi pengagum dalam diam,
tapi aku juga ingin mendengar cerita sejujurnya darimu. Dan ini waktunya, tanpa
diminta kau bercerita.
“Aku mengagumimu jauh
sebelum kisah curi-curi pandang dipustaka. Saat pertama kali aku mengenal
sosokmu. Kamu bukanlah seperti saat ini, si gadis jelita sederhana yang selalu
tampak sempurna dibalik hijabmu”
Aku
terperangah, tertunduk malu membayangkan masa jahiliyahku.
“Maaf. Aku tak bermaksud mengungkit masa
lalumu. Aku hanya ingin menceritakan kisah bahagia ini. Dalam doaku, jika Tuhan
mengizinkan aku berharap kisah ini bisa menjadi kisah bahagia kita bedua, yang
akan membuat kita tersenyum saat mengingatnya”.
Aku
tersenyum, tundukku semakin dalam. Aku malu, tidak lagi kepada dia tapi
kepada-Nya. Malu karena masa jahiliyahku tak lantas membuat Dia menghinakan aku
di hadapan insan lainnya, terlebih insan yang telah menggetarkan hatiku.
“Ceritakanlah, aku ingin mendengarnya” Kataku dengan suara perlahan.
“Kita memang tidak
pernah berkenalan, tapi aku mengenalmu sejak kamu menyandang gelar mahasiswa di
Fakultas kita. Waktu itu, kamu belum seperti ini. Keteguhanmu berhijab belum
mantap, bahkan kamu masih bertingkah seperti anak-anak. Masih ingat?”
Aku
mengangguk, senyum tersipu dalam diam. Wajahku merah merona, ada malu yang
semakin menyeruak disana. Ingatan tentang waktu-waktu itu kembali. Memaksaku
untuk mengenang hal yang ah... sudahlah, bahkan aku pun malu mengingatnya.
“Kamu tahu, ada satu
hal yang membuatku kagum meskipun masa lalumu seperti itu”
Aku
menahan nafas, menantikan kau melanjutkan cerita.
“Aku kagum dengan
kehebatanmu membentengi diri dari bergaul bebas dengan laki-laki. Ku dengar,
tidak satupun laki-laki tak bermartabat yang mampu menaklukan hatimu. Mereka
semua mengundur kalah, sebagian ada yang bergosip dan mengeluarkan pernyataan
tak berlandasan bahwa dirimu bukan wanita normal. Aku sempat terkejut
mendengarnya, membuatku melangkah lebih jauh untuk mencari tahu, dan kudapati
dirimu lah yang begitu normal karena menyadari betapa tidak pantasnya seorang
wanita begitu dekat dengan pria yang bukan mahramnya. Kamu tahu? Sulit sekali
menemukan wanita modern sepertimu”
Tundukku
semakin dalam, tersipu malu. Merah kembali muncul dipipiku.
“Subhanallah,
begitu bijaksananya caramu berpikir” bathinku.
Kau
melanjutkan cerita. “Satu semester
menganggumimu, lantas gelar S1 Kedokteran kudapatkan. Bunda mengirimku ke
Jerman, melanjutkan pendidikan sesuai dengan pilihan. Lama aku tak mendengar
tentangmu, tak ada lagi isi cerita harianku tentang dirimu. Hingga akhirnya,
pendidikan S2 ku selesai. Selain menjadi dokter, aku juga asisten dosen di
kampus kita. Kamu sudah berbeda. Tahun-tahun kepergianku tanpa ceritamu telah
mengubahmu menjadi sosok yang tidak lagi sama. Hanya satu yang tak pernah
berubah, keteguhanmu membentengi diri dari laki-laki tak tahu diri. Hingga
akhirnya aku memutuskan, diam-diam menjadi penguntitmu di perpustakaan, kau
sibuk mencari referensi tugas akhirmu. Hebatnya kisah ini berbeda dari yang
lainnya, kamu tidak pernah menyadar jika aku sedang mematai”
“Lantas,
bagaimana dengan lamaran? Darimana datangnya keberanian itu?” Tanyaku
penasaran.
“Bunda. Bunda selalu
menyadari jika ada yang berbeda denganku. Begitu juga ketika aku menguntitmu. Kata
bunda jika aku menggaggumi seorang wanita, dan sudah yakin dia adalah wanita
yang baik agamanya, maka tumbuhkanlah keberanian untuk menemui orang tuanya.
Masalah ditolak atau diterima jangan dipikirkan, soal jodoh urusan Allah.”
Aku
mendengarkanmu takzim. Kekagumanku jadi semakin bertambah-tambah.
“Setelah mendengar berita kelulusanmu, aku
membawa ayah dan bunda menemui orang tuamu. Alhamdulillah, mereka menyambut
dengan baik. Setelah perbincangan yang tidak lama. Mereka menyetujui dan mengatakan
iya. Tapi bunda bilang, keputusanmu harus menjadi perioritas utama. Aku tak
berani dengan lancang menemuimu dan menanyakannya. Kurasa bunda sudah
mewakilinya dihari pertunangan kita, benarkah?”
Aku
tersenyum dan mengangguk sekali lagi.
Kau
kembali bercerita. “Bunda tidak pernah
mengatakan apa-apa tentang persetujuanmu. Tapi kurasa, jawabanmu pasti iya.
Ikhlas atau tidak bukan masalah. Tekadku sudah mantap. Aku akan menjadikanmu
makmum yang dengan ikhlas hati menerimaku sebagai imammu, dan kelak kita akan
mencetak barisan jama’ah yang tak pernah alpa dengan lima waktunya, bahkan
istiqomah mengerjakan yang sunah. Aku tak pernah melupakanmu dalam doa, dengan
harapan pintu hatimu terbuka. Dan kurasa Tuhan Maha Mendengar, Dia tidak
menghampakan pengharapanku. Hatimu luluh”
Aku
semakin bisu. Dan kau kembali bercerita.
“Kita menikah. Teriring
doa dan restu menjemput sakinah mawadah warohmah bersama menuju Syurga yang
dijanjikan-Nya. Kamu akan selalu menjadi yang tercantik dihatiku. Jika aku
melangkah keluar, membuatku rindu ingin segera pulang. Jika aku marah, ada
keteduhan yang membuat amarahku teredam. Jika aku salah, ada yang dengan penuh
kelembutan menegur dan menujukan kebenaran.”
***
Aku
menangis dalam diam. Buku diary hitam itu baru saja selesai kubaca.
Ini
adalah bulan ke enam sejak sholat ghaib berjama’ah dilakukan menggantikan acara
sakral pernikahan kita.
Kamu
dimana? Aku masih disini, menunggumu.
Aku
baru saja berinteraksi dengan buku harianmu yang kau sertakan dalam hadiah yang
kau titipkan bersama rombongan dihari batalnya pernikahan kita. Aku
membayangkan kau ada dihadapanku. Menceritakan semuanya setelah aku sah menjadi
sosok yang membuatmu rindu pulang. Romantis bukan?
Tapi
ini tentang takdir Tuhan yang tak bisa kita lawan.
Kubuka
halaman terakhir diarymu, sebuah kalimat membuat tangisku semakin pilu.
“Harapan yang ku panjatkan
dalam doa. Sakinah Bersamamu hingga ke Syurga”
Dimanapun kamu, ini pernyataan tertulus dari
hatiku. “Untuk laki-laki pertama yang menggetarkan hati
setelah ayah, Aku akan selalu menjadi perindumu yang tabah, mencintaimu dalam
airmata, hingga sejuknya doa membuat kita tenang dan bahagia”
Komentar
Posting Komentar