UNTUK WANITA SYURGA YANG KUPANGGIL
EMAK
Oleh : Suriyati
Assalamualaikum , apa kabar telapak
syurgaku?
Masihkah
bertengadah diatas sajadah sambil menyebut namaku dalam doa-doa dan bulir suci
dari matamu? Masihkah berlelah-lelah menitiskan peluh demi pendidikanku?
Masihkah gusar tak mampu telelap karena risau berpikir tentang makan atau tidak
aku hari ini?
Engkau
wanita mulia. Telapakmu adalah pintuku menuju ke syurga. Kasihmu sepanjang
masa. Engkau bagaikan mutiara, pengorbananmu tiada duanya.
Emak.
Lewat surat ini, kusenandungkan rinduku yang tertahan. Maafkan aku yang masih
belum mampu membalas sedikitpun pengorbananmu. Maafkan aku yang sempat berpikir
bahwa engkau tidak menyayangiku hanya karena tidak tertunaikannya
keinginan-keinginanku. Kini aku mulai dewasa. Ku sempatkan banyak waktu untuk
berpikir tentang betapa sayangnya engkau kepadaku. Dalam kesabaran, selalu kau
tunjukan contoh tauladan.
Mak.
Sudah dua puluh tahun engkau rasakan bagaimana sulitnya memiliki aku di
hidupmu. Tapi tak sedetikpun dalam harimu, kau keluhkan tentang sengsaramu.
Kenapa, Mak? Harusnya kau sebutkan saja satu persatu, hingga aku sadar akan
deritamu.
Emak.
Masihkah engkau ingat? Betapa jahatnya aku menendangi perutmu. Kala itu engkau
sempat meringis kesakitan lalu kau mengelus perutmu dan berseru
kesenangan“Lihatlah pak, anak kita aktif bergerak”. Selanjutnya dengan tanpa
izin aku merobek-robek rahim mu, kau menjerit penuh kesengsaraan, tapi kemudian
kau tersenyum senang saat bayi merahku berada dalam dekapan. Mak, sadarkah
engkau jika nyawamu hampir melayang? Dan itu, kau pertaruhkan demi aku? Kau benar-benar
wanita syurga, muliamu tak terbilang oleh kata. Entah bagaimana caranya
membalas itu semua. Banyak sudah kususahkan dirimu. Ku sita waktu istirahatmu
dengan tangisanku , ku ambil tenagamu demi membesarkan aku, ku ambil jatah uang
belanja kosmetikmu demi mainanku, ku habiskan umurmu dengan keinginan-keinginanku,
ku ambil kesabaranmu demi mendidikku, ku ambil ketenanganmu dengan keluh kesahku.
Ah... betapa tidak tahu dirinya aku, Mak.
Saat
ini. Ingin rasanya aku seperti dulu. Seperti lirik lagu indah yang selalu
kusenandungkan:
Waktu
kecil, hidupku amatlah senang
Senang dipangku dipeluknya
Serta dicium, dicium dimanjakan
Namanya kesayangan
Senang dipangku dipeluknya
Serta dicium, dicium dimanjakan
Namanya kesayangan
Ahh..
masih kuingat bagaimana rasanya. Berada disampingmu. Merebahkan kepalaku
dipangkuanmu, lalu kau akan memainkan rambutku sambil bercerita tentang apa
saja. Tapi apalah daya, waktu memaksaku untuk dewasa. Berakhir sudah masa
bermanja-manja. Padahal aku ingin sekali berlari dan menangis, mengeluhkan
betapa susahnya menjadi wanita tangguh sepertimu, menceritakan orang-orang
jahil yang telah melukai hatiku. Tapi aku terlalu gengsi dan pemalu. Hingga
akhirnya aku memutuskan diam-diam menangis disudut-sudut gelap kesendirianku,
berharap engkau peka dan menghampiriku lalu mengajakku menceritakannya dalam
dekapanmu. Ah.. tapi kusadar. Wanita tangguh tak pernah menyusahkan, apalagi
menyusahkan wanita mulia sepertimu.
Tentang
pintaku. Tak lagi seperti dulu, dimana aku menuntutmu mengambilkan bulan
untukku. Semua gara-gara lirik lagu yang engkau ajarkan. “Ambilkan bulan bu, Ambilkan bu, untuk menerangi tidurku dimalam gelap”.
Mulai saat ini. Aku ingin engkau memelukku. Tidak mengapa jika jarak memisahkan
kita. Cukup peluk aku dengan doa. Ridho Allah tergantung Ridhomu. Maka saat kau
mendoakanku, sudah pasti Allah akan mendengarkanmu. Suatu hari nanti, aku akan kembali dari tanah
rantau ini. Akan kudekap engkau erat dengan keberhasilanku. Kukecup engkau
bertubi-tubi dengan prestasi gemilangku. Itu janjiku, Mak!
Dalam
rinduku, kupandang potretmu. Tersenyum bahagia. Subhanallah, begitu indahnya
wanita syurga yang Allah jadikan pintu untukku sampai kesana. Lewat surat yang
biasa ini, ku untai kata-kata yang tak kukira panjangnya, berisikan luahan hati
yang mungkin cukup biasa. Tapi ada satu hal yang ingin ku katakan, Mak. Ahh..
Mungkin lebih menyentuh rasanya jika kupanggil engkau ibu, bunda ataupun mama.
Tapi sedari dulu ini yang kau ajarkan padaku. Emak... Kalimat itu mungkin
terdengar kampungan, tapi itulah kalimat indah yang ingin selalu aku banggakan.
Emak, Walaupun engkau tak pernah bertanya
dan aku tidak pernah menyebut siapa yang paling kucinta, kuyakin engkau sudah
tahu jawabannya. Biarpun tak tuliskan kalimat seribu I Love you pada batu-batu
seisi dunia, tetap cintaku padamu tak akan pernah terkikis selamanya. Engkau
tahu, aku tak selalu membuatmu mendengar ungkapan kalimat cinta. Karena aku
tahu, engkau sudah tahu ungkapan terdalam dari lubuk hatiku.
Aku
Mencintaimu. Sangat-Sangat Mencintaimu.
Rinduku
ditanah rantau tak terbilang angka dan kata. Kecupan manis dari kejauhan selalu
kutitip lewat semilir angin malam yang menyentuh pipimu. Doaku berpilin
menyatu, semoga engkau tetap menjadi wanita tangguh disana. Allah besertamu.
Ridho Allah tetap tergantung pada Ridhomu. Telapak syurgaku, Sehatlah selalu.
Nantikan aku dibatas waktu kembali bersama kesuksesan impian-impianku.
I
Love you, Emak.
Salam
Rindu Anandamu di tanah rantau,
SURIYATI
Komentar
Posting Komentar