CIE, CUAP-CUAP BKI. MAGANG? BE THE BEST!
Yang dari Jurusan Bimbingan Konseling Islam
mana? Mana? mana? Teriak donk! BKI JAYA.
Yang Semeseter 7 Mana? Acungin jempolnya donk,
ciee nggak kerasa udah semester 7 aja.
Yang dari lokal B mana?
Absen dulu ya sodara : Ahmad Syarif, Anrila, Arif Munandar, Azwan, Dewi Safrida, Endang
Astuti, Etika Elmiati Usni, Fitri Irmayani, Fraseno Melando, Hadi Putra, Ifa
Safiah, Intan Lestari, Irma Noprianti, Liyandri, Mentari, Misrah, Moh
Al-Fadhil, M. Arif Hidayat, M. Shukri
Sazulkiffli, M. Hanafi, Nabil Fatihin, Nor Yusnilawati, Novha Anggreani,
Pusrawati, Reahlatussa’adah, Refi Pafilco Darfen, Reza Anggraini, Rise Yuliani,
Rosdiana Nasution, Silvi Andriani, Selly Sisca Mey Chella, Suriyati, Umi
Farokah, Ummul Sakinah, Yudian Saputra, Zulfan Efendi, Zumar Hamdi Lubis .
RINDU KALIAN WOY !!
Ah.. Kelas yang kocak, yang garing, yang tegang,
yang serius, yang main-main, yang wow, yang nggak banget, yang seru, yang bikin
bad mood, yang bikin seneng, yang bikin stresss itu udah berakhir. Nggak ada
lagi kelas yang isinya rebutan mau maju kelompok pertama, maki-makian gara-gara nggak ada yang mau
sekelompok sama dia, sindir-sindiran gara-gara ngerasa kosma nggak adil ngebagi
kelompoknya, marah-marahan gara-gara ngerasa dapet kelompok isinya bego semua.
Dan yang paling nggak gue lupa. Nggak bakalan
ada lagi istilah siapa cepat dapat tempat. Sistem ujian yang udah mulai
diterapkan sejak awal semster. Siapa yang hadir duluan dia penguasa tempat
duduk deretan belakang pas ujian. Hihiww.. Inget ini kalian? Terutama yang
cantik-cantik? Masih ingat ini?? Hihiiw.. Pasti yang ngeras menerapkan sisitem
ini langsung cengengesan dan teriak “Bukan Gue” padahal hatinya berbisik “gue
banget tuh”. Hayoo ngaku, nggak usah senyum-senyum malu gitu.
Gue paling hapal sama sistim yang satu itu, dan
selama gue ngenyam pendidikan. Kalianlah orang-orang penerap sistem ujian yang
paling wow. Dan berkat kalian, Alhamdulillah nilai ujian gue selalu penuh
dengan kejujuran. Datang paling sering telat, dapet kursi terdepan. Dapat jawab
syukur, nggak dapat jawab ya tetep wajib syukur. Syukur-syukur dapat noleh kiri
diskusi ama zumar, noleh kanan diskusi ama siska dan yang terakhir syukur
syukur dosennya baik hati ngelulusin gue Kih.. kih.. kih.. kih :D.
Apapun itu, yang udah berlalu biarlah berlalu.
Kita hidup bukan untuk membuka gulungan masa lalu. Tapi untuk membuka
lembaran-lembaran baru agar banyak cerita-cerita dan pengalaman yang bisa kita
ambil hikmahnya. Dan kalian adalah bagian dari lembaran-lembaran kisah terhebat
yang gue punya.
***
Hey, Teringat kalian! Teringat akan magang.
Menurut kabar burung, banyak yang ngeluh
gara-gara ngerasa anak konseling nggak seharusnya magang disitu. Mungkin ini
yang udah dikeluhkan sampai ke Kajur kita Bapak Zul Amri, Sekjur kita Pak
Rahmad, atao ke Pembimbing masing-masing.
“Pak, kami anak konseling masa ditempatkan di
administrasi”
“Pak, kami anak konseling tapi nggak ada peluang
konseling sedikitpun disini”
“Pak tempat magangnya nggak sesuai sama jurusan,
kami kan anak konseling”
“Pak, kami nggak ada kerjaan disini”
Iya? Ada yang gitu? Siapa? Siapa? Dimana? *kepo
deh gue* hihi..
Padahal gue awalnya gitu sih. Bahkan hari
pertama penyambutan, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bengkalis
langsung dengan tegas mengatakan kepada dosen Pembimbing dan kami (baca: Azwan,
Misrah, Suri) “Disini tidak ada peluang konseling, karena semuanya disini
kegiatan administrasi”
Bapak Kakankemenag, Drs. H. Jumari sempat
berpikir keras. Kumisnya yang agak lebat pun sempat naik turun ikut mikirin
penempatan kami. Hhee Peace pak :D Tapi setelah berbincang-bincang dengan Pak
Azni. Ntu Dosen pembimbing tetap nyerahin kami ke Kepala Kantor.
Sepulangnya Dosen Pembimbing, lanjut aksi
bincang-bincangnya. Kalian tahu? Kami yang awalnya mengutarakan harapan
ditempatkan di Bimas, sempat menarik nafas hampa. Tapi Alhamdulillah, Allah
punya rencana lain. Cuma Azwan yang bisa nangkring di kursi Bimas. Sementara
gue di serahin ke Penyelenggara Syariah, dan Misrah Ke Bagian Haji.
Kalian tahu degupan jantung pas pertama kali
masuk ke syariah. Khawatir plus bingung. Gue mbathin “Mau ngapain gue disini”.
Kepala Penyelenggara Syariahnya lagi nggak ada.
Cuma ada para stafnya aja. Dan waktu itu gue cuma kenalan-kenalan gitu aja.
Disana, yang bakal jadi teman seruangan gue ada Bang Ijal, Pak Amri, dan Bu
Tarwiyah.
Pas asik-asik kenalan. Eh, gur ditanyain
“Jurusan apa?”
“Bimbingan Konseling Islam” Jawab gue mantap.
Para staf sejenak saling pandang. Pertanyaan selanjutnya “Kok ditempatkan di
penyelenggara syariah? harusnya dibimas, lebih tepatnya sih ke KUA”. Dan untuk
pertanyaan satu itu cuma bisa gue tanggepin dengan sebuah senyum.
Pulang dari kantor ngegalau ria, bingung mau
ngerjain apa besok. Jauh dari prencanaan awal yang udah siap masuk ke Bimas.
Kerjaan di ruangan itu berkaitan dengan zakat, wakaf, produk halal, dan sumpah
menyumpah. Dan gue belajar tentang ntu semua cuma 2 jam MK Fiqih selama 3
tahun. Loe rasa? Minderrrr lah gue...
Rencana Allah jauh lebih indah.
Hari dimana gue ketemu kepala Penyelenggara
Syariah, Bapak Zulkarnaen S.Ag. Menurut info yang gue dapat katanya dia lumayan
kiler. Tapi pas ketemu mah kagak. Malahan si Misrah bilang, Pak Kasi gue mirip
Aaroon Aziz, Aktor singapura-malaysia yang ganteng itu? Favorit gue. Hihi..
Boleh lah. Kembar tapi beda mereka berdua. :D
Ehemm.. Pak zul dibilang mirip artis luar
negeri, nambah dong nilainya pak?
WHhehheee.. Just Kidding bos J
Pas pertama perkenalan itu gue ikut dia dan staf
rapat. Awalnya sih ngebahas segala kepentingan staf. Setelah 2 lembar HVS habis
dicoret-coret si bos sama catatan-catatannya, dilanjutkan dengan ngenalin ntuh
ruangan sama gue, mulai dari stafnya, pembagian tugasnya dan kerjanya semua
dijelasin. Nah sekarang giliran pertanyaan-pertanyaan. Wajah gue ngedadak lesu.
Dugaan gue nggak meleset. Keheranan anak konseling masuk ke penyelenggara
syariah tetep jadi topik utama.
“Begini pak, “ Ce.. ileh, gue coba ngejelasin
nih, simak ya. Hhhe
“Sebenarnya kami mendapatkan surat tugas PKL
kampus di Kantor Kementerian Agama Kab.Bengkalis ini. Dan saya juga udah
mendengar dari Pak Jumari, bahwa disini hanya ada kegiatan administrasi. Akan
tetapi dosen pembimbing memutuskan, bahwa kami tetap mengabdi disini”
“Oke. Terus penilaiannya
bagaimana? Saya orang yang profesional, dan saya tidak bisa menilai performan
kamu jika memang target dan tujuan magang kamu tidak tercapai” Begitulah jawab
si bos dengan tegas.
Loe rasa? Dalam hati gue udah
bergemuruh, jantung sama kaki sama kompaknya pengen lari. Tapi badan sama otak
nggak ikutan kompak. Walhasil gue masih duduk mematung tak bergeming ditempat.
“Target magang kamu apa?” Tanya
Si bos. Kayanya si bos ngerti gue shock sama kalimat pernyataannya tadi. Hheee
“Target magangnya pak, saya
bisa mengetahui pekerjaan dan tugas-tugas di tempat PKL dan menjalankan semua
perintah yang diberikan kepada saya. Dan yang terpenting lagi, untuk memenuhi
nilai, kami diwajibkan untuk melakukan konseling. Minimal 2 kali selama masa
magang pak” Ini jawaban meluncur gitu aja dari mulut.
“Dan kemarin saya sudah sempat
berbincang dengan kepegawaian yang mengurus absensi kami, Menurut Pak Arpion
untuk memenuhi kewajiban 2 kali praktik konseling kami boleh melakukan di luar,
dengan membawa surat tugas yang dikeluarkan beliau” Aku menmbahkan jawaban
dengan kepercayaan diri penuh.
“Owh begitu” Kali ini Pak Zul
mengangguk tanda mengerti.
“Kalau gitu suri ikut saya saja,
nanti saat saya tugas di mandau, bengkalis, bantan, bukit batu, siak kecil atau
rupat utara, saya minta petugas KUA disana memberikan suri peluang konseling”
Senyumku mengembang. Tuntas
sudah satu permasalahan. Berkat apa? Berkat komunikasi. Ini dia manfaat bisa
menerapkan ilmu komunikasi antar pribadi yang baik. Nggak nyesel gue belaajar
ntu mata kuliah sama pak Zul Amri. Tapi tak dipungkiri, ini juga berkat
kebaikan hati pak bos dan kebesaran Allah yang udah ngeringanin lisan gue buat ngungkapin
kejujuran. Lah?
Aku dengan cepat menjawab
“Boleh. Boleh pak!”
Pak Zul sempat terkekeh.
Selanjutnya beliau mengarahkan apa yang harus gue lakukan didalam ruangan
tersebut. Menurutnya, gue nggak boleh menjalankan perintah dari siapapun. Tapi
gue boleh melakukan tugas dan kewajiban saat ada yang meminta tolong, dan
berusaha peka untuk menolong tanpa diperintah. Karena di ruangan tersebut tidak
ada perintah, melainkan permintaan tolong. Inget banget gue sama kata-katanya
yang satu ntu.
Dan gue sempet ngeluh juga sih
sama Sekjur kita, Pak Rahmad. Kalau nggak percaya tanya aja. Saking gue
bingungnya, gue telpon Pak Rahmad. Gue ceritain situasinya dan minta pendapat
beliau tentang pelaksanaan konseling diluar Kantor tempat gue magang. Dan ini
kata beliau“Ya nggak papa, bagus itu. Nggak masalah dimana penempatannya, Yang
penting penerimaan dan sambutan mereka terhadap kamu baik. Untuk konseling kalau
memang bisa dilakukan diluar juga bagus. Bagus Bagus” .
Alhamdulillah dapat support.
Nggak cuma ngeluh-ngeluh belaka.
***
Sebulan berlalu, konseling tak
kunjung tiba. Tak masalah.
Gue udah enjoy ama pekerjaan
yang gue lakoni. Beberapa kali gue dapat
peluang belajar jadi MC acara formal sekaligus ng-MC beberapa acara pembinaan.
Bahkan saat gue bukan apa-apa, gue dengan pedenya ikut nyempil jadi anggota
pembinaan. Loe rasa? Itu kan bagian dari Bimbingan dan Konseling Islam. Untuk
belajar kenapa harus malu..
Ini kan bagian dari kegiatan
bimbingan. Disini nih gue sempet ikut partisipasi sebagai MC dan peserta,
bahkan sempet jadi peserta yang tak dianggap alias gue masuk aja tanpa disuruh,
Kalo yang di dapat ilmu, bodo amat dianggap ato kagak.
“Pembinaan akhlak Siswa SMA
Sederajat” di acara ini nih, gue nyelip sebagai peserta tak dianggap. Padahal
peserta lainnya bocah-bocah SMA, lah gue? Loe tau kenapa gue betah banget
nyempil? Pembicaranya keren abis. CEO muda, Bapak Iskandar namanya. Ngemotivasi
banget. Bocah-bocah yang biasanya ikut pembinaan pada ngorok, pas giliran pak
Iskandar jadi pembicara pada melek semuanya, ruangan yang hening ngedadak rame.
Ketawa pecah mengudara. Nggak kerasa Udah dhuzur, waktunya makan siang peserta dan gue sukses ngabur ke musholla.
“Pembinaan Majlis Taklim” .
Acara pertama gue ditawarin jadi MC. Waktu belajarnya cuma bentar, 15 menit.
Gurunya banyak. Loe tau kan kalau gurunya banyak gimana? Beda warna rambutnya,
beda perguruannya, beda pengamalan ilmunya. Sempet bingung sih, tapi
alhamdulillah untuk pemula dbilang sukses lah. Dapet cacatan sih dari keluarga
besar Bimas Islam Pak Ibrahim, Buk Tarmiyah, Pak Mashuri, Buk Razmah. Tapi yang
namanya belajar kalo kagak dikoreksi kagak bakalan pernah tau kan dimana salah
dan kekurangannya. Makasih pak, buk.
“Pembinaan Lembaga Zakat” Ini
acara kedua gue nge-MC. Sebelum tampil udah dapat pelajaran dari si bos, Pak
Zul. Banyak juga sih ilmu yang dikasih, alhamdulillah untuk perbaikan. Makasih
bos. Tapi tetep dapat catatan dari Pak Oji, katanya gue kurang santai. Yah,
mungkin karena ni acara yang bikin staf ruangan gue. Jadinya gue berharap bisa tampil paling baik. Saking
fokusnya, nggak nyadar kalo gue kaku. Hhhee kebawa suasana. Pas diacara ini gue
nyempil jadi peserta pembinaan. Alhamdulillah, dapat ilmu zakat. Nyantol lah
sedikit dikepala buat nambah-nambah wawasan di minda. Kali aja besok butuh
ilmunya, ngobrak-ngabrik memori otak ketemu ilmu pembinaannya. Pembicaranya Orang
hebat, Masih muda udah jadi Kepala Penyelenggara Syariah Kanwil Kemenag Riau
(DR.Muhammad Fakhri). Gue bisa duduk di
kursi paling depan yang biasanya didudukin tamu-tamu VIP. Lumayan, bisa
ngelihat dengan jelas gimana DR. Fakhri dengan hebat menyampaikan materinya.
Kemudian dilanjutkan dengan pemateri kedua yang sukses bikin gue ngakak dan
nggak lupa sama kekocakan beliau, Kasubbag TU Kemenag Bengkalis, Pak H.Nasrun.
“Pembinaan Guru PAIS” Ini acara
ketiga nge-MC , dapat tawaran mendadak. Dengan konsep yang sederhana, Berbekal
teguran dan nasihat Pak Oji sebelum tampil, gue ngerasa percaya diri. Walalupun
pas tampil langsung grogi. Tapi alhamdulillah lancar. Ntah dimana kekurangannya
pas hari itu pun gue lupa. Seinget gue sih banyak kesalahan dikalimat-kalimat
yang ngelucur gitu aja. Tapi ya udahlah, sukses juga kok acaranya.
Tepat di hari ke 39 gue berada
dibengkalis,
“Apa kegiatan hari ini?” Tanya
bos.
“mmm.. belum ada pak” Jawabku
sambil coba meningat-ingat, apakah ada kerjaan yang belum terselesaikan.
“Pak Nasuha, dari KUA Kecamatan
nelfon. Hari ini ada peluang konseling. Gimana? Siap?”
“Ha? Hari ini pak?” Kaget kan
gue. Secara gitu, nggak ada persiapan apa-apa. Nggak kepikiran konseling, dan
nggak kepikiran buat ketemu calon pengantin.
“Iya. Hari ini. Jam 9, langsung
ke KUA. Ijal, tolong antarkan Suri, dia ada tugas konseling di KUA Bengkalis”
Bos nggak nunggu respon gue.
Mau nggak mau gue terima. Dalam sekejap gue hafalin doa hubungan suami isteri.
Soalnya dari banyak pertanyaan yang bakal gue tanyain. Cuma doa itu yang gue
nggak tau. Lima belas menit hafal tuntas sampai ke arti-artinya. Berbekal
degupan jantung yang nggak karuan gue berangkat ke KUA. Udah telat sedikit sih,
tapi Alhamdulillah nggak papa. Setelah dipersilahkan ketemu klien, kegugupan
gue ngedadak ilang. Sesuai dengan konsep konseling yang gue pelajari, klien
udah mulai terbuka buat bicara A-Z. Konsep dari BP4 gue ketepikan sebentar.
Setelah itu baru digunakan. Setengah jam berlalu. Tuntas tugas gue.
Alhamdulillah selesai.
Jujur aja, konselingnya belum
pas. Banyak alasan bikin keadaan nggak kondusif. Tapi apapun juga. Makasih buat
semua pihak atas peluang yang gue dapet. Kliennya? Hanya Allah yang tahu
seperti apa. Untung aja kemarin gue
nggak nyia-nyiain acara pelatihan yang diadakan jurusan. Masih inget gimana
narasumber mengkonseling Pasangan Azwan dan Pusrawati di rektorat? .
Alhamdulillah nyantol ilmunya, dan kurang lebih. Lebih asikan konseling gue .
Hahaha.
Setelah hari itu, sempat dapat
tawaran buat konseling ke Lapas anak. Tapi Bapak Tengku yang nawarin, ngerasa
khawatir. Gimana nggak, anak-anaknya udah mulai membesar. Takutnya belum sempat
dikonseling, gue dan kawan-kawan malah mundur gara-gara digodain. Hahaaa. Tapi
kata beliau, lagi diusahain gue dan kawan-kwan bisa kesana. Paling nggaknya
satu kali lah. Kami tunggu loh pak, infonya.
Sempat juga ditawarin ke Lapas
Wanita. Tapi yah syaratnya butuh surat keterangan melakukan konseling dari
kampus. Waktunya udah mepet banget kan? Kapan mau ngurusnya? Makasih buat tawarannya juga.
Rencananya mau turun ke
sekolah, Ntah konseling sekolah atau konseling karir. Sedang dalam perencanaan.
Si Siska udah bikin suratnya sih. Tinggal nunggu disposisi dari Pak Nasrun dan
surat tugas dari Pak Aprion. Setelah
itu, go to school. Semoga Allah memberikan kelancaran buat tugas kami
selanjutnya.
Pak Bos sempat juga sih nelpon
Pak Nasuha. Untuk sementara nggak ada, Dan menunggu panggilan buat konseling
selanjutnya. Semoga bakalan ada calon pengantin yang bakal gue temuin sekali
lagi sebelum tanggal 12 Desember.
Mulai sekarang gue sadar satu
hal.
“Gue bukan anak konseling, tapi
gue anak dari pasangan yang berbahagia Bapak Basri dan Ibu Sugenti. Kalau
pendidikan, Ya! Gue sedang menjalani pendidikan di Bimbingan dan Konseling
Islam, Fakultas Dakwah Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif
Kasim Riau. Basic ilmu yang diajarin pas kuliah emang banyak tentang konseling
dan Psikologi. Tapi kita juga banyak ngedapetin pelajaran ilmu-ilmu lain.
Contohnya komunikasi antar pribadi, manajemen, Fiqih, de el el. Nah loh? Terus
kalau magangnya ditempatin ditempat yang nggak ada konselingnya, kok masalah?
Emangnya ilmunya disitu-situ aja?. Harusnya yang jadi masalah itu, kalo pas
dikasi kerjaan kita nggak bisa ngerjain karena alasan konseling”
“Stop deh nyalahin posisi
sebagai anak konseling. Anak konseling juga nggak berdosa kok nguasain ilmu
lain? Lagian Bimbingan dan konseling itu luas. Nggak sekedar duduk berdua
tatapan muka antara konselor dan klien. Bisa ngasi layanan informasi juga udah
belajar tentang salah satu layanan konseling. Ya nggak? Yang penempatannya di
administrasi siapa? Udah bisa belum ngasi pelayanan informasi dengan baik?
Kalau belum, berhenti deh bedalih “Kan Gue Anak Konseling”. Hahaa
Sok bijak gue? Biarin.
Gue bangga bisa belajar
konseling, dan gue paling bangga jadi anak EMAK BAPAK yang udah bisa bikin gue
belajar di jurusan Bimbingan Konseling Isalam.
BKI JAYA.
Komentar
Posting Komentar