“...8,9, 10 udah belom? Tak boleh
sembunyi dalam rumah, siapa keluar duluan dia jadi”
Remember that?
Hey kamu! Iya kamu, M. Sujarwo, M.
Khairul Azan, Reo Hadifa Septio Pratama. Apa kabar kalian?
Ahh.. terlalu formal rasanya menyebut
nama kalian selengkap-lengkapnya. Ingatanku lebih senang melafalkan nama
panggilan kalian yang simpel Jarwo, Iyol, Yoyok.
Sembunyi pom alias petak umpet.
Kalian dan aku adalah kita. Dan itu adalah saat-saat paling bahagia.
Walaupun harus panas-panasan di
tengah terik matahari, masuk keluar semak-semak buat sembunyi, pulang kerumah
gatal-gatal dan diomeli. Kurasa itu indah. Masih ingat?
Kurasa memoryku masih cukup bagus
untuk mengenang beberapa cerita bersama kalian 3 sekawan. Mungkin kita sekarang
udah terlalu lama tidak saling sapa atau paling tidak udah canggung untuk
saling mengusik. Benar?
Akui saja. Tidak ada paksaan untuk
menyimpan kenangan lama. Tapi aku secara pribadi tidak akan pernah melupakan
kalian bertiga. Karena bersama kalian lah aku menghabiskan separuh waktuku
tumbuh.
Masih ingat? Pulang sekolah kita main
sepeda, ngumpul dibawah pohon kelapa kuning depan rumah Jarwo? Waktu itu cuma
aku yang belum bisa naik sepeda. Kalian akan senang menertawaiku setiap kali
aku terjatuh menggunakan sepeda federal baru Jarwo yang ukurannya dua kali
lebih besar dari tubuhku. Aku menangis dengan lutut penuh luka berdarah yang
menganga. Kalian akan terdiam dari tawa dan bilang “Udah lah, jangan nangis.
Hii.. cengeng”.
Setiap kali hujung minggu kita akan
berburu ke pohon koko di rumah almarhum Yut Minah, Kita akan rebutan buah koko
untuk di petik. Waktu itu pohon kokonya cuma satu, dan kita selalu dimarahi
karena metik koko yang masih kehijauan. Almarhum Yut selalu bilang “Buah
kokonya jangan di ambil, itu untuk Man Isal”.
Hihii... Sorry Maman Isal, Jatah buah
kokonya selalu kami habiskan.
Dasarnya kita nakal, kita petik saja
buah yang masih hijau diam-diam. Kita sembunyikan dibalik semak-semak hingga
warna hijau berubah menjadi kekuning-kuningan. Puas berburu koko mentah. Kita
sibuk manjatin pohon jambu putih di darat rumah Nyai yos. Orang tua kita selalu
marah. Kata mereka disitu banyak pecahan kaca dan sebagainya. Tapi dasarnya
kita anak hiperaktif yang tidak bisa di omeli, walhasil hampir setiap musim
jambu kita tetap bergelayutan di pohon terlarang. Hhee..
Aku juga masih ingat bagaimana
serunya main di parit bareng kalian. Jeburan hingga bibir membiru dan kulit
tubuh kisut kedinginan. Biasanya kalian bertiga akan terjun dari jembatan yang
satu, kemudian bersaing pacu kecepatan berenang sampai ke jembatan lainnya. Dan
karena aku satu-satunya perempuan, aku dilarang untuk melakukan aksi yang sama,
ditambah keahlian berenangku hanya gaya batu. Sekali terjun langsung nggak
timbul-timbul. Makanya aku lebih sering bermain sabun dan membuat busa-busa
yang bisa kuhanyutkan sambil menyoraki kalian, biasanya aku tidak sendirian,
aku melakukannya dengan si Fitri, adek perempuan Jarwo satu-satunya. Saking
asyiknya, tanpa sadar air parit merah jernih bertukar warna menjadi coklat
keruh. Hhee..
Kalau udah begitu biasanya almarhum
Mbah Aim atau Nyai Yos akan turun dan ngomelin kita yang udah berhasil
mengeruhkan tempat mandi mereka. Setelah di omeli biasanya kita akan menyudahi
keseruan mandi. Kita akan berdiri menyaksikan agenda rutin sore di perlataran
rumah Nyai Giah.
Kalian ingat agenda rutin itu apa?
Ini dia.
Kita akan menyaksikan Yoyok akan
dijemput ibunya tepat di depan rumah Nyai Giah. Biasanya ibu yoyok akan
mengomelinya yang sedang menggigil kedinginan karena baru bangkit dari parit.
Haha. Kalian ingat? Lucu sekali
wajahnya. Tertunduk di motor belakang sambil nurut ngikut pulang. Kita biasanya
akan selalu menertawakannya bersama hingga tanpa sadar, emak kita bertiga udah
muncul dengan seribu ekspresi geram dan omelan yang siap meluncur tajam.
Syuttt... dalam sekejap kita
beringsut dari tempat. Meninggalkan emak-emak kita yang pada akhirnya
mengurungkan niat marah dan sepakat untuk duduk menggosip di cakruk. Dasar
emak-emak !
Berhubung aku udah nyinggung si
Fitri, sekalian aja ya kuceritakan dia bersama di kisah manis ini. Dia seorang
anak kecil dengan warna rambut agak kemerah-merahan. Sekilas kayak pucuk jagung kering. Hheee..
Dia juga selalu mbuntutin si Jarwo pergi, jadinya dia selalu juga ikut aksi.
Banyak pertualangan seru yang kami alami berdua tanpa kalian bertiga. Termasuk
di omeli berjamaah sama emaknya jarwo dan emakku gara-gara kami kompakan nyusun
kursi buat manjat ke atas tempat tidur Almarhum Mbah dan akhirnya jatuh ke
bawah dengan tubuh sakit-sakitan. Ingat Fit? Haha.. Ini baru satu kisah loh,
masih banyak pertualangan seru kita lainya. Insya Allah ada edisi khususnya
buat Fitri.
Oh iya, balik lagi dengan tiga
serangkai. Ada yang hampir aku lupa.
Kita punya rutinitas lain yang sama.
Tepat ba’da zuhur kita akan berlomba-lomba untuk pergi ngaji kerumah Wak Yani.
Siapa cepat datang ngaji duluan. Ah.. Bukan ngajinya yang kuingat. Tapi ke
konyolan kita setelah atau sebelum ngaji. Buru-buru datang kerumah Wak Yani
yang baru pulang noreh dan belum siap masak, Biasanya kita akan rebutan
manjatin pohon jambu. Iya kan? Hhhee..
Satu hal yang tak terlupakan olehku
tentang ngaji di rumah Wak Yani. Karena aku malas mendapat giliran ngaji
terakhir. Makanya aku selalu datang duluan. Waktu itu masih terlalu awal aku
pergi dan kalian bertiga belum ada yang datang. Aku mengendarai sepeda biru
kesayanganku. Tapi begitu belok di jembatan, keseimbanganku oleng. Byuurrr...
Aku dan sepedaku kompakan nyebur di
parit. Tenggelam timbul gara-gara nggak bisa berenang. Untungnya waktu itu ada batangan sagu untuk
makan ayam yang di rendam Yai Abu. Jadinya aku bisa bertahan disana. Hampir
lemas aku dibuatnya, tapi tak berhasil naik. Dan Alhamdulillah Allah masih
sayang padaku. Dia menggerakan hati Yai Abu untuk menengok batangan sagu
rendamannya, dan mendapatiku tenggelam timbul disana. Berkat bantuan beliau aku
berhasil keluar dari himpitan batangan sagu. Aku menangis sejadi-jadinya.
Tubuhku lemas dan aku pulang kerumah dengan menuntun si biru yang sempat
nyangkut dijembatan Wak Yani. Hheee. Alpa ngaji sehari.
Setelah ngaji di tempat Wak Yani
biasanya kita akan melanjutkan ngaji di TPA. Kebetulan aku berbeda angkatan
dengan kalian. Jadinya, kita tidak punya cerita menarik di kelas TPA. Mungkin
kalian bertiga punya cerita yang berbeda karena satu angkatan. Semoga kelak,
jika iya aku bisa mendengarnya.
Oh iya. Dunia kita tidak sempit. Dan
kita bukan hanya kita.
Kita masih punya teman lain yang juga
mewarnai hari kita bukan? Kalian pasti bisa memiliki ingatan lebih baik dariku
tentang Kak Siti yang seangkatan dengan kalian dan Abangnya Eko. Mereka selalu
datang ngajakin main ular tangga dan monopoli. Waktu itu aku yang paling kecil,
aku tak ikut main bersama kalian. Kerjaanku hanya menghitungi duit-duit
permainan kalian. Hhee tapi tetap menyenangkan.
Kita juga selalu main dengan Ajis.
Usianya lebih kurang denganku. Kebetulan rumahnya agak jauh, dan hanya sesekali
datang kerumah Nyai Giah. Jadi tak banyak yang kuingat selain permainan
monopoli dan ular tangga yang sama seperti sebelumnya.
Hhhe,,
Oh Iya. Ada lagi nih.
Parit Gantung.
Ingat? Kampung kita adalah kampung
kelebihan air. Jadi, setiap kali hujan pasti banjir. Sebagian orang mungkin
berpikir itu musibah dan bencana. Sederet keluh kesah selalu terdengar setiap kali
banjir melanda. Tapi bagi kita yang masih terlalu kecil. Banjir itu
menyenangkan. Kita akan bermain air sepuasnya tanpa takut diomeli karena keruh.
Tapi dasar orang dewasa, mereka selalu iri dengan kebahagiaan kita. “Jangan
main air, nanti bajunya basah” atau “Airnya kotor, jangan main disitu , nanti
gatal-gatal”. Ahh.. Bodo’. Kita abaikan saja, dan itu benar-benar
membahagiakan.
Biasanya saat banjir-banjir seperti
itu. Orang-orang yang lebih besar dari kita jadi ikut perduli dan join untuk
bergembira bersama.
Masih ingat?
Pergi keliling rumah orang dengan
Bang Adi dan Man Isal untuk mencari batang pisang. Kalian para anak laki-laki
akan sibuk menebangi pohon pisang menyusun dan mengikatnya menjadi sebuah
kendaraan yang bisa terapung diatas banjir. Aku tidak ikut main. Tapi aku
adalah saksi keseruan kalian bermain. Masih kuingat dengan jelas bagaimana
wajah kalian comot satu persatu. Bergiliran menaiki getek buatan kalian
sendiri. Kalian akan kegirangan jika
getek kalian bisa membawa kalian berlima dari jembatan satu hingga ke jembatan
lainya.
Ahh.. Indahnya.
Tapi itu tidak lama.
Bapakku mengambil keputusan yang tak
kusukai. Aku ikut keluargaku pindah. Sebenarnya saat itu aku benci. Aku benci
keputusan orang dewasa yang menyekat tawa bahagia menjadi kesunyian sendiri.
Di tempat baruku.
Tidak ada parit besar dengan air
merah yang bisa untuk berenang, yang ada parit kecil dengan air jernih.
Tidak ada kalian yang setiap saat
menjadi patnerku mencuri dan rebutan
buah koko, yang ada beberapa pohon koko yang aku sendiri sampai muak
memakannya.
Tidak ada banjir saat hujan dengan
getek yang menyenangkan. Yang ada perbukitan dengan air jernih yang selalu
kering saat sekelilingnya becek berair.
Tidak ada parit besar yang bisa
membuatku tenggelam timbul hingga lemas di himpitan batangan sagu, yang ada
hanya parit kecil tanpa air yang bisa kulintasi dengan satu kaki.
Tidak ada omelan Mbah Aim atau Nyai
Yos gara-gara air coklat keruh, yang ada hanya kolam dengan air jernih dan
putih.
Banyak yang berbeda.
Dan semakin hari semakin berbeda.
Saat aku mengunjungi kalian, kita sudah mulai enggan untuk berbincang. Kalian
sudah semakin besar dan tumbuh menjadi laki-laki tampan. Sudah tidak lagi
anak-anak yang masih mengusap ingus dengan hujung bajunya.
Ahhh.. andai saja waktu berputar
hanya diwaktu itu.
Kurasa dunia seindah pelangi. Tak ada
kelabu seperti mendung menutupi matahari.
***
Sekarang!
Ya Sekarang, Kita sudah tumbuh
dewasa.
Dimanapun kalian warna-warni masa
kecilku. Semoga tetap indah from dunia until akhirat..
“Buat Jarwo yang udah mau wisuda.
Congratulation cousin. Sehat selalu, Lancar rezekinya, sukses karirnya,
terwujud impiannya, kejar jodohnya cepet merridnya, Jadi kebanggaan emak,
bapak, adik-adik dan Almarhum Mbah. Oh iya, kamu selalu dapat salam dari
teman-temanku yang melihatmu. Kata mereka kamu tampan. Ciee yang banyak
penggemar”
“Buat Iyol yang udah punya baby.
Congratulation udah jadi papa. Sehat selalu, Lancar rezekinya, sukses kerjanya,
terwujud impiannya, samawa until akhirat keluarganya, jadi teladan terbaik ya”
“Buat Yoyok yang nggak tau gimana
kabarnya. Sehat selalu, Lancar terus
rezekinya, sukses kerjanya, terwujud impiannya, cepetan nyusul Iyol merridnya, Oh
iya.. udah wisuda belom? Kalo udah selamat ya, kalo belum buruan wisudanya ya.
Eh, Kemarin pas di fakultas banyak loh yang nge-fans kamu. Cieee”
“Buat Fitri yang baru ngejalanin
awal-awal perkuliahan, yang semangat sayang. Sehat selalu di tanah rantau,
lancar rezekinya, sukses pendidikannya, terwujud impiannya, Jangan keburu
nikahnya, biari aja Jarwo duluan. Hhee.. Semangat ya sayang”
Terimakasih untuk kalian yang telah
menjadi pelangi separuh masa kecilku. Kalian tetap berwarna walau tak telihat.
Tak memudar dimamah waktu, senantiasa membaur dalam ingat.

Komentar
Posting Komentar